Pengamat dari UNM Dukung Strategi Ekonomi Jokowi
Minggu, 01 Januari 2023 - 21:11 WIB
loading...
A
A
A
“Perkiraannya beberapa pengamat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat, tidak bisa mencapai target di atas 5%. Itu tadi skenario buruknya. Skenario terbaiknya, masih bisa tumbuh di atas 5%. Untuk antisipasi resesi global, pemerintah tetap harus menjaga kepercayaan dirinya pelaku usaha, dan pastikan memang Pandemi benar-benar berakhir sehingga proses pemulihan ekonomi terus berlanjut,” tambahnya.
Andika mengakui, Indonesia saat ini kecipratan duit triliunan rupiah dari hasil jual bahan tambang mentah sebesar Rp173,5 triliun atau sekitar 170 persen. Dan itu, kata dia, melampaui target yang dipatok oleh pemerintah tahun 2022.
“Berdasarkan data, dari Dirjen Minerba Kementerian ESDM, di sana itu mencatat tentang bagaimana Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), dari sektor pertambangan itu memang sebesar Rp173,5 triliun. Atau sekitar 170 persen yang melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah yang awalnya targetnya cuma Rp101,8 triliun, melebihi target menjadi 173,5 triliun,” ungkapnya.
“Nah, itu data yang diakumulasi berdasarkan laporan per 16 Desember 2022. Bisa dibilang, memang harga komoditas itu memang cemerlang. Harga tersebut terjadi karena terutama kenaikan harga batu bara, yang saat ini meroket harganya ditengah konflik antara Rusia dan Ukraina," sebutnya.
"Jadi, memang itu penyebab utamanya. Berdasarkan data, terkait pertambangan capaian PNBP melalui komoditas tambang yang sedang cemerlang-cemerlangnya,” pungkasnya.
Andika mengakui, Indonesia saat ini kecipratan duit triliunan rupiah dari hasil jual bahan tambang mentah sebesar Rp173,5 triliun atau sekitar 170 persen. Dan itu, kata dia, melampaui target yang dipatok oleh pemerintah tahun 2022.
“Berdasarkan data, dari Dirjen Minerba Kementerian ESDM, di sana itu mencatat tentang bagaimana Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), dari sektor pertambangan itu memang sebesar Rp173,5 triliun. Atau sekitar 170 persen yang melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah yang awalnya targetnya cuma Rp101,8 triliun, melebihi target menjadi 173,5 triliun,” ungkapnya.
“Nah, itu data yang diakumulasi berdasarkan laporan per 16 Desember 2022. Bisa dibilang, memang harga komoditas itu memang cemerlang. Harga tersebut terjadi karena terutama kenaikan harga batu bara, yang saat ini meroket harganya ditengah konflik antara Rusia dan Ukraina," sebutnya.
"Jadi, memang itu penyebab utamanya. Berdasarkan data, terkait pertambangan capaian PNBP melalui komoditas tambang yang sedang cemerlang-cemerlangnya,” pungkasnya.
(nag)
Lihat Juga :