Pengamat dari UNM Dukung Strategi Ekonomi Jokowi
Minggu, 01 Januari 2023 - 21:11 WIB
loading...
Pakar ekonomi Universitas Negeri Makassar (UNM) Andika Isma memuji strategi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam penguatan ekonomi nasional menghadapi ancaman krisis ekonomi pada 2023. (Ist)
A
A
A
MAKASSAR - Pakar ekonomi Universitas Negeri Makassar (UNM) Andika Isma memuji strategi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam penguatan ekonomi nasional menghadapi ancaman krisis ekonomi pada 2023. Menurut dia, Indonesia masih aman dari ancaman resesi.
“Secara eksekusi memang jago sekali ini Jokowi. Kalau yang paling terasa dampaknya itu pas eranya Jokowi. Dia yang buat kebijakan tentang industri pengelohan, menurutnya hasil tambang itu jangan mentahnya saja yang dijual atau di ekspor, tapi sudah dikelola atau diolah baru di ekspor supaya makin mahal harganya,” kata Andika, Minggu (1/1/2023).
Dikatakan Andika, prospek ekonomi global tahun 2023 akan gelap karena diliputi ketidakpastian yang sangat tinggi. Namun, Indonesia bisa survive dengan kondisis tersebut karena Indonesia tidak bertumpu pada ekspor saja, tetapi juga pada konsumsi domestik.
“Kondisi Indonesia masih cukup baik dan diperkirakan mampu bertahan menghadapi resesi global. Kenapa bisa? Karena Indonesia itu berbeda dengan negara-negara lain yang terlalu bertumpu pada ekspor. Perekonomian Indonesia lebih bertumpu pada konsumsi domestik yang diperkirakan terus membaik seiring dengan hilangnya pandemi,” tuturnya.
Ekonomi Indonesia, kata Andika, masih tetap kuat dengan pendapatan ekspor yang cukup tinggi, yakni komoditas pertambangan. “Dari sisi ekspor, Indonesia juga masih akan terbantu dengan tingginya harga komoditas, termasuk mi pertambangan tadi,” ucapnya.
Menurut Andika, Indonesia akan ikut merasakan imbas dari resesi global jika benar-benar terjadi. Tetapi, dampak tersebut tidak terlalu berpengaruh karena harga komoditas akan terus melonjak dan itu secara otomatis menguntungkan Indonesia.
“Yah 2023, perekonomian Indonesia memang berpotensi mengalami perlambatan, tapi tidak sampai resesi. Resesi nanti tidak menurunkan harga komoditas, tapi malah masih akan tetap tinggi dan otomatis pasti menguntungkan Indonesia,” jelasnya.
“Secara eksekusi memang jago sekali ini Jokowi. Kalau yang paling terasa dampaknya itu pas eranya Jokowi. Dia yang buat kebijakan tentang industri pengelohan, menurutnya hasil tambang itu jangan mentahnya saja yang dijual atau di ekspor, tapi sudah dikelola atau diolah baru di ekspor supaya makin mahal harganya,” kata Andika, Minggu (1/1/2023).
Dikatakan Andika, prospek ekonomi global tahun 2023 akan gelap karena diliputi ketidakpastian yang sangat tinggi. Namun, Indonesia bisa survive dengan kondisis tersebut karena Indonesia tidak bertumpu pada ekspor saja, tetapi juga pada konsumsi domestik.
“Kondisi Indonesia masih cukup baik dan diperkirakan mampu bertahan menghadapi resesi global. Kenapa bisa? Karena Indonesia itu berbeda dengan negara-negara lain yang terlalu bertumpu pada ekspor. Perekonomian Indonesia lebih bertumpu pada konsumsi domestik yang diperkirakan terus membaik seiring dengan hilangnya pandemi,” tuturnya.
Ekonomi Indonesia, kata Andika, masih tetap kuat dengan pendapatan ekspor yang cukup tinggi, yakni komoditas pertambangan. “Dari sisi ekspor, Indonesia juga masih akan terbantu dengan tingginya harga komoditas, termasuk mi pertambangan tadi,” ucapnya.
Menurut Andika, Indonesia akan ikut merasakan imbas dari resesi global jika benar-benar terjadi. Tetapi, dampak tersebut tidak terlalu berpengaruh karena harga komoditas akan terus melonjak dan itu secara otomatis menguntungkan Indonesia.
“Yah 2023, perekonomian Indonesia memang berpotensi mengalami perlambatan, tapi tidak sampai resesi. Resesi nanti tidak menurunkan harga komoditas, tapi malah masih akan tetap tinggi dan otomatis pasti menguntungkan Indonesia,” jelasnya.
Lihat Juga :