Ekonomi Dunia

Industri pertambangan Australia diprediksi melambat

Selasa,  24 Juli 2012  −  10:59 WIB
Industri pertambangan Australia diprediksi melambat
ilustrasi Foto: Corbis

Sindonews.com – Pertumbuhan industri pertambangan Australia diperkirakan melambat dalam dua tahun ke depan. Hal tersebut dikarenakan berkurangnya permintaan dari China disertai penurunan harga komoditas pertambangan.

Ekspor pertambangan ke negara Asia terutama China sebelumnya telah membantu Australia mengatasi krisis keuangan global tanpa memasuki resesi.Dampaknya,Negeri Kanguru optimistis bakal memiliki surplus anggaran pada tahun fiskal 2012–2013 yang dimulai 1 Juli lalu. Pada sebuah laporan yang dirilis The Australian,Perdana Menteri Australia Julia Gillard meyakini bahwa pemerintahannya akan mencatatkan surplus sebesar USD1,5 miliar pada tahun fiskal 2012/2013.

Surplus tersebut bahkan diperkirakan terus bertahan hingga tahun anggaran 2015/2016. Namun,lembaga konsultasi anggaran Australia Deloitte Access Economics menyatakan, proyeksi surplus tersebut bisa saja gagal akibat menurunnya permintaan dari China dan merosotnya harga batu bara dan bijih besi. “Sektor pertambangan yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi serta menyediakan perlindungan dari masalah krisis utang Eropa dan perlambatan permintaan China, tidak akan bertahan selamanya,” ujar lembaga tersebut dilansir AFP kemarin.

Deloitte menambahkan,kekuatan perekonomian Australia dari booming-nya sektor pertambangan, tidak akan mampu bertahan selama lebih dari dua tahun atau lebih. Direktur Deloitte Chris Richardson mengungkapkan, saat ini permintaan mineral Australia di pasar utama tengah mengalami penurunan. Selain China, merosotnya permintaan juga berasal dari India dan Brasil.“Pada saat bersamaan, harga-harga turun sementara biaya-biaya di Australia meningkat dalam beberapa tahun terakhir,”katanya.

Meski demikian, kata dia, tidak berarti bahwa ledakan investasi akan memudar di kemudian hari. Richardson pun mempertanyakan kondisi kekuatanperekonomian Australia. Menteri Perdagangan Australia Craig Emerson menegaskan, penurunan harga mineral telah diperhitungkan dalam anggaran sebagaimana penurunan penerimaan pajak keuntungan modal yang disebabkan masih dipengaruhinya pasar saham oleh krisis keuangan global.

Menanggapi hal itu Richardson mengutarakan, ekonomi Australia tetap unggul dalam perekonomian global. “Kita telah menilai diri kita berdasarkan pengalaman kita sendiri dan Australia melakukannya dengan sangat baik, namun jika kita ingin melakukan yang lebih baik dari itu, tolak ukurnya sangat berat,”tegasnya. Sekadar informasi, ekonomi Negeri Kanguru tumbuh sebesar 3,2 persen sepanjang tahun ini hingga Juni 2012.

Sementara, serikat pekerja sektor konstruksi pertambangan Australia (CFMEU) mengkhawatirkan tingginya biaya dan rendahnya harga komoditas di pasar dunia. Menurut organisasi tersebut, kekhawatiran pekerja merujuk pada salah program salah satu perusahaan terbesar di sektor pertambangan lokal yakni Rio Tinto yang berencana mengurangi jumlah pekerja.

Ketua Asosiasi Eksplorasi Pertambangan Australia Simon Bennison masih optimistis terhadap outlook industri komoditas termasuk dalam hal harga. “Saya pikir kami memiliki fundamental yang kuat di sektor sumber daya. Sektor komoditas ini juga yang akan memberikan kami pendekatan jangka panjang,”kata Bennison.




(and)

views: 1.352x
shadow