Pelaku Pasar Modal Keluhkan Perlambatan Ekonomi

Kamis, 14 Mei 2015 - 18:27 WIB
Pelaku Pasar Modal Keluhkan...
Pelaku Pasar Modal Keluhkan Perlambatan Ekonomi
A A A
JAKARTA - Perlambatan ekonomi di luar ekspetasi pasar pada kuartal I/2015 yang hanya tumbuh 4,71%, dikeluhkan para pelaku pasar modal.

"Kita dari market sendiri sudah merasakan perlambatan. Bisa dilihat dari transaksi value bursa, data terakhir menunjukan tansaksi value bursa berkisar di angka Rp6,6 triliun, sedangkan targertnya Rp7 triliun," ujar Direktur MNC Securities Susi Meilina seusai acara ekonomic outlook di Bursa efek indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (13/5/2015).

Menurutnya, selaku pelaku pasar modal tentunya menginginkan pasar stabil. "Belum lagi masalah nilai tukar, kita inginnya stabil bukan fluktuasi begitu. Yang fluktuasi kan pasar modal, sebenarnya ini yang kita hawatirkan," imbuh dia.

Pemerintah perlu melakukan banyak hal untuk mendongkrak kinerja pasar modal. "Banyak hal, contohnya dahulu pada 1988 pernah membuat kebijakan untuk menarik perbakan dan menjadi bergerak lah industrinya," jelasnya.

Susi menambahkan, untuk pasar modal dirasa perlu melakukan gebrakan yang dapat membuat pasar modal lebih bergairah lagi. "Perlu di lakukan seperti gebrakan. Berdasarkan data, kami selaku pelaku di pasar modal sudah berdarah-darah, jadi jika tidak dilakukan yang namanya gebrakan atau apapun untuk mem-boost pasar modal, ya kita susah hidup," terangnya.

Di sisi lain, para pelaku pasar terutama yang lokal, dibutuhkan proteksi dari pemerintah untuk bisa menghadapi ASEAN Economic Community (AEC). "Sebernaya yang lebih penting itu proteksi harus ada buat prusahaan efek lokal, Jadi tambah di proteksi kita akan siap bersaing denga foren yang akan masuk," bebernya.

Dia berarap pemerintah dapat membuat kebijakan mempermudah perusahaan efek. "Sebenarnya pemerintah yang bikin, ataukah mau melakukan dereulasi atau kebijakan untuk mempermudah perusahaan efek," kata dia.

Di sisi lain, terkait wacana pemerintah untuk menikkan penerimaan pajak, dapat melemahkan iklim usaha di Indonesia. "Saya minta pandangan pemerintah seperti apa. Karena sudah banyak wacana yang digulirkan dirjen pajak tetapi berhenti karena dapat tentangan dari industri, karena tidak sesuai. Memang pemerintah ingin menggenjot pajak, tapi ya jangan memberatkan industri," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Ditutup...
Wall Street Ditutup Menguat Didukung Data Pertumbuhan Ekonomi AS
Misbakhun Ajak Pelaku...
Misbakhun Ajak Pelaku Pasar Modal Tetap Optimistis soal Ekonomi RI
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Berita Terkini
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
20 menit yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
1 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
10 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
10 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
10 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved