Penggabungan PGN-Pertamina Solusi Infrastruktur Gas

Jum'at, 05 Juni 2015 - 17:29 WIB
Penggabungan PGN-Pertamina...
Penggabungan PGN-Pertamina Solusi Infrastruktur Gas
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai penggabungan (holding) dua BUMN migas yaitu PT Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dapat menjadi solusi penyediaan infrastruktur gas nasional.

Hal ini dinilai lebih efisien ketimbang menjadikan dua perusahaan pelat merah tersebut menjadi agregator gas nasional. Agregator gas justru akan menimbulkan inefisiensi baru di sektor migas nasional. Investor justru akan menjauh karena sistemnya berbelit.

"Sebaiknya sistem permigasan kita harus lebih simple dan jelas. Jangan kelewat banyak BUMN entah itu namanya agregator. Cukup pemerintah yang memegang kebijakan dan regulator, enggak bentuk baru. Ditjen Migas harus diperkuat, bukan bentuk lembaga baru," ujarnya di Jakarta, Jumat (5/6/2015).

Ichsanuddin beralasan, saat ini infrastruktur gas di Indonesia masih sangat minim, terlebih untuk kebutuhan rumah tangga. Ketergantungan rumah tangga terhadap elpiji harus dihentikan, sebab untuk mendapatkan elpiji harus diimpor.

"Di perut bumi nusantara ini, cadangan gasnya besar. Tapi komponen gas elpiji C3 dan C4‎ hanya 5%-10%. Sementara 90%-95% itu berupa C1 dan C2," sebut dia.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sedianya rumah tangga tidak lagi mengandalkan gas elpiji.‎ Namun harus diandalkan dari gas perut bumi lewat jaringan gas (jargas). "Jadi ke rumah tangga dialirkan lewat pipa,"‎ tambahnya.

Namun, saat ini Indonesia masih dihadapkan minimnya pipa gas untuk menyalurkan gas ke rumah tangga yang sejatinya tugas PGN untuk menyediakannya. Sayangnya, pipa gas tersebut tak tertangani oleh BUMN gas tersebut lantaran telah diswastakan sekitar 43%.

"Solusinya, PGN dan Pertamina harus holding. Bila perlu, saham swasta harus di-buyback (beli kembali) pemerintah sehingga pemerintah bisa menyuruh PGN bangun infrastruktur gas. Pemerintah juga bisa pakai APBN untuk bangun infrastruktur gas, lalu pengoperasian bisa ke PGN," tandas dia.

Penggabungan Pertamina dan PGN dinilai bisa mempercepat pembangunan infrastruktur gas. Selain itu agar antara keduanya tidak terjadi benturan dan tumpang tindih kepentingan.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
70% LPG Masih Impor,...
70% LPG Masih Impor, Bos Pertamina Menjawab: Sah-sah Saja
Pertagas Uji Coba Alirkan...
Pertagas Uji Coba Alirkan Gas ke BOB Siak Pusako, Ketahanan Energi Riau Makin Andal
Dapat Gas Murah dari...
Dapat Gas Murah dari PGN, Baja Krakatau Steel Bakal Kompetitif
PGN Gandeng Pegadaian,...
PGN Gandeng Pegadaian, Tingkatkan Kemudahan Pembayaran Tagihan GasKita
Banjir Melanda, Bright...
Banjir Melanda, Bright Gas Hadir di Dapur Umum Jakarta
Kerahkan Satgas Pengamanan...
Kerahkan Satgas Pengamanan Libur Nataru 2022, PGN Pastikan Kelancaran Distribusi dan Layanan Gas Bumi Nasional
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
6 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
7 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
8 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
10 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
10 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
10 jam yang lalu
Infografis
Uni Eropa Mempertimbangkan...
Uni Eropa Mempertimbangkan Kembali Pakai Gas Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved