BI Prediksi Inflasi 7% pada Kuartal III
Jum'at, 10 Juli 2015 - 14:24 WIB
BI Prediksi Inflasi 7% pada Kuartal III
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo memprediksi, inflasi masih berada di angka 7% pada kuartal III/2015. Namun, BI tetap antisipasi jika ada kenaikan harga karena depresiasi rupiah atau El-Nino.
"Secara umum BI masih memperkirakan inflasi di angka 4 plus minus 1%," ungkap Agus di Jakarta, Jumat (10/7/2015).
Terkait dengan cadangan devisa yang kembali turun pada akhir Juni menjadi USD108 miliar, dia menilai, ada dua faktor yang berpengaruh. Pertama, bulan Juni merupakan bulan di mana permintaan valuta asing (valas) untuk bayar utang dan deviden ke luar negeri sangat besar.
Kedua, tekanan di pasar keuangan juga masih belum mereda, sehingga eksportir yang dalam kondisi tertekan tidak ada yang menjual dolar Amerika Serikat (USD), melainkan menahan nya. Akibatnya, BI harus hadir di pasar untuk stabilisasi kurs, begitu juga di pasar obligasi.
"Kenapa hadir di pasar obligasi? Karena kalau dibiarkan investor keluar dari Surat Berharga Negara (SBN). Keluarnya itu juga beli USD. Jadi, Bank Indonesia juga hadir di pasar obligasi," ungkapnya.
Dua minggu terakhir, menurut dia, investor asing sudah masuk ke pasar SBN. Padahal, saat itu rupiah berada di level Rp13.295/USD. Artinya, investor asing melihat bahwa pengelolaan makro Indonesia baik.
Itu tercermin dari defisit transaksi berjalan (CAD) yang sudah bisa diturunkan sampai 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Bank Indonesia berharap, defisit transaksi berjalan di akhir tahun ini bisa dijaga di level 2,5%-2,7% dari PDB.
"Secara umum BI masih memperkirakan inflasi di angka 4 plus minus 1%," ungkap Agus di Jakarta, Jumat (10/7/2015).
Terkait dengan cadangan devisa yang kembali turun pada akhir Juni menjadi USD108 miliar, dia menilai, ada dua faktor yang berpengaruh. Pertama, bulan Juni merupakan bulan di mana permintaan valuta asing (valas) untuk bayar utang dan deviden ke luar negeri sangat besar.
Kedua, tekanan di pasar keuangan juga masih belum mereda, sehingga eksportir yang dalam kondisi tertekan tidak ada yang menjual dolar Amerika Serikat (USD), melainkan menahan nya. Akibatnya, BI harus hadir di pasar untuk stabilisasi kurs, begitu juga di pasar obligasi.
"Kenapa hadir di pasar obligasi? Karena kalau dibiarkan investor keluar dari Surat Berharga Negara (SBN). Keluarnya itu juga beli USD. Jadi, Bank Indonesia juga hadir di pasar obligasi," ungkapnya.
Dua minggu terakhir, menurut dia, investor asing sudah masuk ke pasar SBN. Padahal, saat itu rupiah berada di level Rp13.295/USD. Artinya, investor asing melihat bahwa pengelolaan makro Indonesia baik.
Itu tercermin dari defisit transaksi berjalan (CAD) yang sudah bisa diturunkan sampai 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Bank Indonesia berharap, defisit transaksi berjalan di akhir tahun ini bisa dijaga di level 2,5%-2,7% dari PDB.
(rna)
Lihat Juga :