Isu Reshuffle Bayang-bayangi Pelemahan Rupiah
Selasa, 28 Juli 2015 - 16:32 WIB
Isu Reshuffle Bayang-bayangi Pelemahan Rupiah
A
A
A
SINGAPURA - Gejolak politik yang melanda pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait isu reshuffle menjadi katalis baru atas sentimen bearish terhadap perekonomian Indonesia di tengah mata uang rupiah yang terus melemah.
"Kredibilitas manajemen Jokowi telah runtuh dalam menghadapi perubahan ke sistem konstan," kata IMA Asia dalam sebuah laporan baru-baru ini, seperti dilansir dari CNBC, Selasa (28/7/2015).
Sembilan bulan sejak menjabat, Jokowi terus berjuang menghadapi oposisi di parlemen yang menghambat kemajuan reformasi, termasuk undang-undang anti-korupsi dan program infrastruktur yang dikampanyekannya.
"Untuk mulai membersihkan rintangan, sepertinya Jokowi harus merombak kabinet. Tapi, apakah mengarah ke kabinet yang lebih baik atau lebih buruk adalah masalah politik terbesar untuk tahun 2015," kata IMA Asia.
Ketidakpastian prospek membuat investor khawatir. Rupiah jatuh ke Rp13.465 terhadap USD pada kemarin. Angka ini ketujuhkalinya dalam dua bulan rupiah diperdagangkan pada tingkat terendah sejak krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an. Rupiah kehilangan 9%, sebagai mata uang berkinerja terburuk di Asia setelah ringgit Malaysia.
"Presiden Joko Widodo masih bergulat mengkonsolidasikan posisinya hampir setahun sejak menjabat. Kegagalan menstabilkan koalisi, meluluskan undang-undang, dan memperbaiki lingkungan investasi bisa merusak prospek perekonomian jangka pendek," kata Deutsche Bank.
"Tidak seperti mantan Presiden Yudhoyono (SBY) yang didominasi partai politiknya, Jokowi membatasi ruang politik dalam penyusunan kabinetnya, dan cenderung memiliki kebebasan reshuffle yang terbatas," ujar Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura, yang mencatat politisi Megawati Soekarnoputri masih memegang tahta di partai berkuasa PDIP.
IMA Asia sepakat dengan pernyataan Jokowi berada di bawah tekanan. "Ada rumor bahwa perombakan mungkin bermotif politik oleh PDIP, dalam sebuah langkah untuk meningkatkan pengaruhnya - ingat bahwa kabinet terdiri dari teknokrat dan politisi," kata ekonom Mizuho Bank.
Ekonomi Mizuho menyebutkan, reshuffle mungkin akan diumumkan segera setelah Lebaran. Alasan utama di balik langkah ini kemungkinan penurunan persetujuan rating Presiden 40%, menurut survei awal bulan ini oleh Saiful Mujani Research and Consultant (SMRC).
Selain itu, kata NTU, Presiden juga perlu untuk mempertahankan loyalitas anggota koalisinya dengan memasukkan kader mereka di kabinet.
Baca juga:
Rupiah Lesu, RI Butuh Perbaikan Fundamental Ekonomi
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
Core: Tak Ada Sinyal Rupiah Balik Menguat
"Kredibilitas manajemen Jokowi telah runtuh dalam menghadapi perubahan ke sistem konstan," kata IMA Asia dalam sebuah laporan baru-baru ini, seperti dilansir dari CNBC, Selasa (28/7/2015).
Sembilan bulan sejak menjabat, Jokowi terus berjuang menghadapi oposisi di parlemen yang menghambat kemajuan reformasi, termasuk undang-undang anti-korupsi dan program infrastruktur yang dikampanyekannya.
"Untuk mulai membersihkan rintangan, sepertinya Jokowi harus merombak kabinet. Tapi, apakah mengarah ke kabinet yang lebih baik atau lebih buruk adalah masalah politik terbesar untuk tahun 2015," kata IMA Asia.
Ketidakpastian prospek membuat investor khawatir. Rupiah jatuh ke Rp13.465 terhadap USD pada kemarin. Angka ini ketujuhkalinya dalam dua bulan rupiah diperdagangkan pada tingkat terendah sejak krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an. Rupiah kehilangan 9%, sebagai mata uang berkinerja terburuk di Asia setelah ringgit Malaysia.
"Presiden Joko Widodo masih bergulat mengkonsolidasikan posisinya hampir setahun sejak menjabat. Kegagalan menstabilkan koalisi, meluluskan undang-undang, dan memperbaiki lingkungan investasi bisa merusak prospek perekonomian jangka pendek," kata Deutsche Bank.
"Tidak seperti mantan Presiden Yudhoyono (SBY) yang didominasi partai politiknya, Jokowi membatasi ruang politik dalam penyusunan kabinetnya, dan cenderung memiliki kebebasan reshuffle yang terbatas," ujar Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura, yang mencatat politisi Megawati Soekarnoputri masih memegang tahta di partai berkuasa PDIP.
IMA Asia sepakat dengan pernyataan Jokowi berada di bawah tekanan. "Ada rumor bahwa perombakan mungkin bermotif politik oleh PDIP, dalam sebuah langkah untuk meningkatkan pengaruhnya - ingat bahwa kabinet terdiri dari teknokrat dan politisi," kata ekonom Mizuho Bank.
Ekonomi Mizuho menyebutkan, reshuffle mungkin akan diumumkan segera setelah Lebaran. Alasan utama di balik langkah ini kemungkinan penurunan persetujuan rating Presiden 40%, menurut survei awal bulan ini oleh Saiful Mujani Research and Consultant (SMRC).
Selain itu, kata NTU, Presiden juga perlu untuk mempertahankan loyalitas anggota koalisinya dengan memasukkan kader mereka di kabinet.
Baca juga:
Rupiah Lesu, RI Butuh Perbaikan Fundamental Ekonomi
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
Core: Tak Ada Sinyal Rupiah Balik Menguat
(dmd)
Lihat Juga :