USD Bakal Terdepresiasi, Siap-siap Rupiah Terapresiasi
Rabu, 26 Agustus 2015 - 15:25 WIB
USD Bakal Terdepresiasi, Siap-siap Rupiah Terapresiasi
A
A
A
JAKARTA - Vice President Research & Analysis Asia Securities Nico Omer mengaku tak khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terjadi saat ini.
Pasalnya, dalam beberapa waktu mendatang, mata uang Paman Sam diperkirakan bakal terdepresiasi dan rupiah akan kembali terapresiasi.
Dia menuturkan, pelemahan yang terjadi terhadap mata uang Garuda sejauh ini masih berjalan secara gradual. Sebab, pelemahan rupiah ini bukan karena kepanikan pasar.
"Jadi, tidak ada panik sama sekali, di mana misalnya rupiah melemah Rp200-Rp500/USD. Tidak ada kan? Itu masih sangat pelan dan juga seiring pelemahan mata uang lain di Asia," katanya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Nico melanjutkan, Indonesia juga tidak bisa membiarkan rupiah menguat sendiri, sementara mata uang lainnya di Asia melemah. Pasalnya, itu justru akan membahayakan Indonesia dan membuat rupiah tidak lagi kompetitif.
"Yang lain melemah di Asia, kita sendiri menguat. Itu salah menurut saya, jadi biarkan market berjalan sendiri. Kalau melemah, ya melemah," ungkap dia.
Menurut Nico, pada akhirnya nanti fenomena superdolar pun akan meredup dan mata uang Paman Sam akan kembali melemah. Pelemahan USD akan terjadi saat AS melakukan stimulus tambahan dalam bentuk pencetakan uang.
Nico menjelaskan, AS sebentar lagi akan masuk tahap resesi berikutnya dan saat ini kondisi pasar sedang menahan (discounter) pasar saham yang sempat anjlok kemarin.
"AS pun begitu. Jadi saya pikir, kalau katakanlah AS itu bursa sahamnya koreksi di atas 20%, itu saya pikir September-Oktober, paling diwaspadai bursa AS akan makin terpuruk dan terkoreksi, bahkan lebih dari 20% dari puncaknya," tutur Nico.
Akibatnya, lanjut dia, Bank Sentral AS (The Federal Reserve) akan khawatir dengan koreksi tersebut dan pada akhirnya melonggarkan lagi kebijakan moneternya. "Oleh karena itu, pada akhirnya USD akan melemah kembali," tandasnya.
(Baca: Tak Perlu Khawatir, 17 Mata Uang Lebih Anjlok dari Rupiah)
Pasalnya, dalam beberapa waktu mendatang, mata uang Paman Sam diperkirakan bakal terdepresiasi dan rupiah akan kembali terapresiasi.
Dia menuturkan, pelemahan yang terjadi terhadap mata uang Garuda sejauh ini masih berjalan secara gradual. Sebab, pelemahan rupiah ini bukan karena kepanikan pasar.
"Jadi, tidak ada panik sama sekali, di mana misalnya rupiah melemah Rp200-Rp500/USD. Tidak ada kan? Itu masih sangat pelan dan juga seiring pelemahan mata uang lain di Asia," katanya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Nico melanjutkan, Indonesia juga tidak bisa membiarkan rupiah menguat sendiri, sementara mata uang lainnya di Asia melemah. Pasalnya, itu justru akan membahayakan Indonesia dan membuat rupiah tidak lagi kompetitif.
"Yang lain melemah di Asia, kita sendiri menguat. Itu salah menurut saya, jadi biarkan market berjalan sendiri. Kalau melemah, ya melemah," ungkap dia.
Menurut Nico, pada akhirnya nanti fenomena superdolar pun akan meredup dan mata uang Paman Sam akan kembali melemah. Pelemahan USD akan terjadi saat AS melakukan stimulus tambahan dalam bentuk pencetakan uang.
Nico menjelaskan, AS sebentar lagi akan masuk tahap resesi berikutnya dan saat ini kondisi pasar sedang menahan (discounter) pasar saham yang sempat anjlok kemarin.
"AS pun begitu. Jadi saya pikir, kalau katakanlah AS itu bursa sahamnya koreksi di atas 20%, itu saya pikir September-Oktober, paling diwaspadai bursa AS akan makin terpuruk dan terkoreksi, bahkan lebih dari 20% dari puncaknya," tutur Nico.
Akibatnya, lanjut dia, Bank Sentral AS (The Federal Reserve) akan khawatir dengan koreksi tersebut dan pada akhirnya melonggarkan lagi kebijakan moneternya. "Oleh karena itu, pada akhirnya USD akan melemah kembali," tandasnya.
(Baca: Tak Perlu Khawatir, 17 Mata Uang Lebih Anjlok dari Rupiah)
(rna)