Rupiah Melemah, Industri Migas dalam Kondisi Sulit

Rabu, 26 Agustus 2015 - 15:54 WIB
Rupiah Melemah, Industri...
Rupiah Melemah, Industri Migas dalam Kondisi Sulit
A A A
SURABAYA - Pemerintah mengaku, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) saat ini dalam kondisi sulit di tengah turunnya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmadja Puja mengatakan, pemerintah berupaya supaya industri migas tetap bergairah melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dalam rangka meningkatkan produksi migas nasional.

Pihaknya mengaku telah melakukan diskusi secara intensif dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi di masa sulit seperti saat ini.

“Kita dari pemerintah akan melakukan berbagai usaha bagaimana industri hulu tetap bergerak, termasuk mendorong tetap aktif melakukan diskusi dengan KKKS, terutama insentif apa yang mereka butuhkan dan sebagainya,” tutur dia di sela Forum Komunikasi Keselamatan Migas 2015 di Surabaya, Rabu (26/8/2015).

Dia tidak memungkiri di tengah kesulitan KKKS akan berpengaruh terhadap pencapaian target komitmen ekplorasi dan eksploitasi yang telah ditetapkan dalam work plan and budget (WP&B) 2015. Namun begitu pihaknya optimistis target tersebut mampu dicapai.

“Tahun ini target WP&B-nya sudah ditetapkan dan sekarang yang harus kita pikirkan untuk tahun depan ada kemungkinan pasti direvisi,” tandasnya.

Di tengah kondisi sulit yang dialami industri migas saat ini, Wakil Direktur Refominers Institute Komaidi Notonegoro pesimistis target produksi minyak yang ditetapkan pemerintah bersama DPR tahun ini sebesar 825.000 barel per hari (bph) mampu tercapai.

Pasalnya, dampak yang akan ditimbulkan adalah para pelaku di sektor industri migas akan menahan produksi sehingga tidak menutup kemungkinan target tidak tercapai.

“Tentu dengan kondisi itu menimbulkan dampak dan produksi akan ditahan,” tutupnya.

WP&B 2015 menetapkan investasi hulu migas sebesar USD22,2 miliar, turun 13,3% dibanding 2014 sebesar USD25,64 miliar. Investasi 2015 mencakup USD14,8 miliar untuk kegiatan pengeboran 952 sumur work over dan pemeliharaan 38.914 sumur. Adapun, biaya pengembangan 783 sumur diprediksi menelan investasi USD4,7 miliar.

(Baca: Tak Perlu Khawatir, 17 Mata Uang Lebih Anjlok dari Rupiah)
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Deretan Gergasi Migas...
Deretan Gergasi Migas Asing yang Tak Betah di Indonesia
Status SKK Migas Jadi...
Status SKK Migas Jadi BUMN Khusus Menguat
Intip Strategi Mengejar...
Intip Strategi Mengejar Target Investasi Migas di Tengah Pandemi
Tantangan Besar Industri...
Tantangan Besar Industri Migas
28 Kesepakatan Migas...
28 Kesepakatan Migas Berpotensi Datangkan Penerimaan Rp35 Triliun
Geo Opti Oilfield Services...
Geo Opti Oilfield Services Curi Perhatian Profesional Migas di Ajang IPA Convex 2025
Berita Terkini
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
8 menit yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
40 menit yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
1 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
11 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
11 jam yang lalu
Infografis
27 Negara Ini Terdeteksi...
27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved