Selain USD, Faktor Ini Makin Tekan Industri Plastik

Jum'at, 28 Agustus 2015 - 11:22 WIB
Selain USD, Faktor Ini...
Selain USD, Faktor Ini Makin Tekan Industri Plastik
A A A
JAKARTA - Industri plastik di dalam negeri sedang mengalami kesulitan karena menguatnya dolar Amerika Serikat (USD), bea masuk industri dan bahan baku yang masih impor.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 132 tahun 2015, industri plastik terkena bea masuk impor sebesar 10%. Pengusaha plastik berangapan kebijakan tersebut membebani industrinya.

"Kita belum sampai ke taraf PHK (pemutusan hubungan kerja), tapi dua faktor itu yang menyebabkan industri kita sekarang tersendat. Untuk produk-produk kemasan, kebutuhan bayi, wanita, turun tapi sedikit," ujar Ketua Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (AIPHI) Tjokro Gunawan ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Selain dua faktor itu, dia menambahkan, masalah utama di industri plastik adalah masalah bahan baku, yang masih impor karena belum tersedia di dalam negeri.

"Untuk plastik yang sifatnya kebutuhan, kita belum bisa mencukupi. Untuk dalam negeri baru bisa mencukupi sekitar 50%, sisanya harus impor, terutama untuk plastik-plastik jenis lain, seperti engineering impor, yang khusus-khusus itu kita belum produksi," tutur dia.

Jadi, daya saing produksi plastik Indonesia memang belum kompetitif, ditambah dengan PMK 132 tahun 2015, yang dinilai masih memberatkan.

"Kita bea masuk masih harus bayar, sementara negara lain sudah free. Ditmbah lagi, persaingan regional yang sangat ketat karena tidak bayar bea masuk, tapi kita bayar 10%," ujar Tjokro.

Hal itu pada akhirnya, dia menjelaskan, akan membuat produk plastik Indonesia tidak kompetitif di regional karena harganya yang lebih mahal akibat terkerek bea masuk.

Di tengah ketergantungan bahan baku pada impor, jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap USD makin menekan industri plastik. Menurut dia, jika harus membeli bahan baku di pasar lokal, harganya sudah internasional.

"Menurut kami, di tengah kondisi saat ini, kalau nanti produksi bahan baku lokal sudah mencukupi, kami tidak perlu impor. Kalau masih impor, di samping bea masuk mahal, rupiah juga lagi loyo bakal memberatkan industri hilir," pungkasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Upaya Mengurangi Kantong...
Upaya Mengurangi Kantong Plastik Sekali Pakai
Digempur Produk Impor,...
Digempur Produk Impor, Industri Bahan Baku Plastik Perlu Dilindungi
Usung Keberlanjutan,...
Usung Keberlanjutan, Plastics & Rubber Indonesia Seri ke-35 Segera Dibuka
CCOF Bantu Daur Ulang...
CCOF Bantu Daur Ulang Sampah Plastik di Kalimantan dan Sulawesi
Go Internasional, Kartonplas...
Go Internasional, Kartonplas Diperkenalkan dalam Pameran Plastic dan Rubber Thailand 2023
Proteksi Industri Hilir,...
Proteksi Industri Hilir, Impor Barang Jadi Plastik Perlu Diperketat
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
2 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
3 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
3 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved