Perajin Tas Kulit di Daerah Ini PHK 50% Karyawan

Senin, 31 Agustus 2015 - 10:33 WIB
Perajin Tas Kulit di...
Perajin Tas Kulit di Daerah Ini PHK 50% Karyawan
A A A
JOMBANG - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) membuat para perajin tas kulit di Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim) terpaksa merumahkan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 50% karyawannya.

Keputusan tersebut terpaksa diambil karena bahan baku pembuatan tas kulit berasal dari bahan impor, sehingga biaya produksi menjadi mahal dan para perajin harus melakukan efisiensi serta mengurangi produksi.

Para perajin tas kulit di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang ini, terdapat dua desa yang dikenal banyak memiliki perajin tas kulitas, yakni Desa Rejo Slamet dan Mojojejer.

Demi mempertahankan kelangsungan usahanya, para perajin di dua desa tersebut kini terpaksa harus merumahkan lebih dari 50% karyawannya.

Fadlan (38), salah satu perajin tas kulit di Desa Mojojejer, Senin (31/8/2015) mengaku, sebelumnya jumlah karyawan di rumah produksi tas kulit miliknya sebanyak 25 orang. Namun, kini pihaknya terpaksa merumahkan 15 karyawannya.

Menurutnya, langkah tersebut terpaksa dia ambil karena bahan baku pembuatan tas kulit merupakan bahan impor sehingga jika dolar naik biaya produksi juga ikut naik.

Akibatnya, lanjut dia, untuk menyelamatkan usahanya para perajin terpaksa harus melakukan efisiensi. Di antaranya, dengan mengurangi produksi dari rata-rata 1.000 tas per bulan kini menjadi hanya sekitar 500-an.

Selain itu, jumlah karyawan juga terpaksa mereka kurangi. Beragan bahan baku yang harus diimpor para perajin mulai dari kulit kanvas lilin, cordura, bisaband, black nikel, benang, dan masih banyak lagi.

Ironisnya, meski bahan bakunya impor namun pasar yang bisa mereka jangkau selama ini hanya pasar lokal. Karena itu, jika dolar naik dampaknya akan langsung membuat mereka terpukul.

Efisiensi dengan mengurangi produksi dan jumlah karyawan, menurut Fadlan tidak hanya dia yang melakukan tapi juga para perajin tas kulit lainnya di Desa Mojojejer dan Desa Rejo Slamet.

Para perajin berharap pemerintah segera melakukan berbagai macam upaya agar rupiah kembali menguat sehingga usaha kecil menengah seperti mereka bisa kembali bangkit.

Sebab, jika kondisi ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan tas kulit produksi para perajin tidak akan terjangkau pasar sehingga mereka akan gulung tikar.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diproduksi di Solo,...
Diproduksi di Solo, GSP Siap Pasok Kain American Drill ke Pasar Domestik dan Global
Memahami Pentingnya...
Memahami Pentingnya Kapas Berkualitas Dorong Kesuksesan Industri Tekstil
Kolaborasi dengan MC...
Kolaborasi dengan MC Texstyle, Vira Tandia: Memudahkan Pelanggan Mendapat Bahan Kain Berkualitas
Diacak-acak Barang Impor,...
Diacak-acak Barang Impor, Juragan Tekstil Sempat Nangis Darah
Permendag 8/2024 Bakal...
Permendag 8/2024 Bakal Direvisi Disambut Baik Asosiasi Tekstil
Mendorong Industri Tekstil...
Mendorong Industri Tekstil Tanah Air Mengedepankan Bisnis Berkelanjutan
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
2 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
8 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
8 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
9 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
10 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
10 jam yang lalu
Infografis
Jadi Buah Terbaik di...
Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Ini 7 Manfaat Manggis untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved