Ringgit Jatuh ke Level Terendah sejak 1998 Dipicu Data AS

Senin, 07 September 2015 - 09:44 WIB
Ringgit Jatuh ke Level...
Ringgit Jatuh ke Level Terendah sejak 1998 Dipicu Data AS
A A A
KUALA LUMPUR - Mata uang Malaysia, ringgit jatuh ke level terendah baru sejak 1998 karena harga minyak memperpanjang penurunan.

Tekanan ditambah pascalaporan tingkat pengangguran Amerika Serikat (AS) yang berada di titik terendah dalam tujuh tahun terakhir. Hal itu menambah berat Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan.

Minyak mentah Brent memperpanjang penurunan pekan lalu dan telah turun setengahnya selama 12 bulan terakhir, memangkas pendapatan pemerintah untuk mengekspor minyak Malaysia. Sementara tingkat pengangguran AS menyentuh 5,1% pada Agustus, level terendah sejak 2008.

Berdasarkan data resmi, jumlah tenaga kerja nonpertanian AS di bawah perkiraan. Tingginya risiko biaya pinjaman AS meningkatnya arus modal keluar dari negara berkembang seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi China.

"Kekhawatiran pertumbuhan China dan masalah naiknya suku bunga Fed menjadi penyebab melemahnya mata uang. Mata uang negara berkembang secara keseluruhan paling parah terkena imbas risiko di pasar keuangan," kata ahli strategi valuta asing di Bank of Singapore Ltd Sim Moh Siong, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (7/9/2015).

Ringgit melemah 1% menjadi 4,3030/USD pada pukul 09.10 di Kuala Lumpur. Sebelumnya ringgit jatuh ke 4,3100, level terendah sejak Januari 1998 di 4,8850. Mata uang Malaysia ini sudah turun 1,4% pada pekan lalu, penurunan mingguan ke-11 dan terpanjang sejak 1993.

Bank sentral Malaysia akan melakukan pertemuan akhir pekan ini, dengan delapan dari sembilan ekonom yang disurvei Bloomberg memprediksi bahwa tidak akan ada perubahan pada suku bunga acuan dan tetap di 3,25%. Namun satu ekonom memperkirakan suku bunga akan naik 25 basis poin.

Sementara laporan Jumat lalu menunjukkan cadangan devisa negara Malaysia naik menjadi USD94,7 miliar dalam dua pekan terakhir Agustus.

Sementara dua pekan sebelumnya berada di USD94,5 miliar, level terendah sejak 2009, dan sinyal bank sentral mungkin telah melakukan intervensi untuk membendung kejatuhan dalam mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.

Bank of Singapoore menyatakan, turunnya cadangan devisa merupakan upaya pemerintah untuk mendukung ringgit.

Sementara peluang untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan ini sebesar 30%, 43% pada bulan Oktober dan 58% pada Desember. Data tenaga kerja AS bulan Agustus naik 173.000, kurang dari perkiraan sebanyak 217.000 dan 245.000 direvisi pada bulan sebelumnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
PM Malaysia Mundur,...
PM Malaysia Mundur, Ringgit Jatuh ke Level Terendah
Wapres Minta Ekonomi...
Wapres Minta Ekonomi Perbatasan Indonesia-Malaysia Diperkuat
Malaysia Akui Keberadaan...
Malaysia Akui Keberadaan TKI Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Malaysia Lockdown Total,...
Malaysia Lockdown Total, Dampak Ekonominya ke RI Tak Signifikan
Ekonomi Malaysia Resmi...
Ekonomi Malaysia Resmi Krisis secara Teknis, Terparah Sejak 1998
IMF Prediksi Ekonomi...
IMF Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% di 2026, Ungguli China dan Malaysia
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
52 menit yang lalu
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
1 jam yang lalu
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
1 jam yang lalu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
1 jam yang lalu
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
2 jam yang lalu
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
2 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved