IHSG Diproyeksi pada Kisaran 4.335-4.413
Jum'at, 18 September 2015 - 08:10 WIB
IHSG Diproyeksi pada Kisaran 4.335-4.413
A
A
A
JAKARTA - Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini akan bergerak pada kisaran 4.335-4.413.
Kombinasi tidak naiknya suku bunga acuan The Fed menjadi faktor IHSG akan kembali menguat di tengah berkurangnya tekanan jual atas rupiah dan net sell asing year to date yang mencapai Rp10,12 triliun.
"Menguat setelah the Fed membiarkan suku bunga tidak berubah, dari IHSG yang sempat naik 1% kemarin. Kemudian terjadi profit taking mendorong IHSG ditutup turun 65,21 poin atau melemah 0,39%," ujarnya di Jakarta, Jumat (18/9/2015).
Profit taking di tengah ramainya perdagangan kemarin tercermin dalam volume perdagangan berjumlah Rp8 miliar saham. Lebih kecil dibandingkan rata-rata perdagangan dari awal bulan berjumlah 8,1 miliar saham.
Sepert sudah diperkirakan juga, Ketua The Fed Jannet Yellen tidak menaikkan suku bunga, dalam jangka pendek cukup melegakan tetapi bisa juga diartikan terjadi perlambatan ekonomi global.
"Semakin naiknya volatility setelah China mendevaluasi yuan dan masih rendahnya CPI domestik AS (belum tercapai 2%) serta bisa diartikan currency war akan semakin panjang berlangsung," pungkasnya.
Kombinasi tidak naiknya suku bunga acuan The Fed menjadi faktor IHSG akan kembali menguat di tengah berkurangnya tekanan jual atas rupiah dan net sell asing year to date yang mencapai Rp10,12 triliun.
"Menguat setelah the Fed membiarkan suku bunga tidak berubah, dari IHSG yang sempat naik 1% kemarin. Kemudian terjadi profit taking mendorong IHSG ditutup turun 65,21 poin atau melemah 0,39%," ujarnya di Jakarta, Jumat (18/9/2015).
Profit taking di tengah ramainya perdagangan kemarin tercermin dalam volume perdagangan berjumlah Rp8 miliar saham. Lebih kecil dibandingkan rata-rata perdagangan dari awal bulan berjumlah 8,1 miliar saham.
Sepert sudah diperkirakan juga, Ketua The Fed Jannet Yellen tidak menaikkan suku bunga, dalam jangka pendek cukup melegakan tetapi bisa juga diartikan terjadi perlambatan ekonomi global.
"Semakin naiknya volatility setelah China mendevaluasi yuan dan masih rendahnya CPI domestik AS (belum tercapai 2%) serta bisa diartikan currency war akan semakin panjang berlangsung," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :