Iwapi Batal Bertemu Jokowi Gara-gara The Fed
Jum'at, 18 September 2015 - 15:54 WIB
Iwapi Batal Bertemu Jokowi Gara-gara The Fed
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) batal menerima kunjungan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) di Istana Negara, Jakarta, hari ini.
Hal itu karena Jokowi memanggil sejumlah menterinya mengenai beberapa persoalan, di antaranya soal keputusan Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Reserve (The Fed), yang menahan suku bunga acuan (Fed rate) selama hampir satu dekade.
Kendati demikian, mewakili Presiden Jokowi, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menerima kunjungan pengurus Iwapi.
"Presiden harus rapat mendadak untuk merespon The Fed yang tidak jadi menaikkan suku bunganya," kata Ketua Umum Iwapi Dyah Anita Prihapsari di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (18/9/2015).
Wanita yang akrab disapa Nita Yudi ini mengaku, keputusan orang nomor satu di negeri ini bisa dimaklumi. Lagipula, lanjut dia, Presiden Jokowi berjanji akan kembali menerima kedatangan pengurus Iwapi pada kesempatan berikutnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, maksud kedatangan pihaknya ke Istana untuk melaporkan hasil musyawarah nasional (Munas) ke-8. "Sejak 48 tahun lalu, sekarang ada 30.000 perempuan pengusaha," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan bahwa Presiden Jokowi mendadak ada pekerjaan, sehingga dia diminta untuk mewakili untuk bertemua dengan Iwapi.
Dia pun memberikan penjelasan kepada para pengurus Iwapi alasan Presiden Jokowi tidak bisa menemui lantaran pekerjaan terkait situasi ekonomi terkini dan paket kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Dalam pertemuan dengan pengurus Iwapi, dia mengaku membahas soal situasi ekonomi saat ini dan upaya yang harus dilakukan dengan pihak terkait, termasuk pengusaha.
"Intinya adalah mencoba menjelaskan ini situasi seperti apa sih sebetulnya dan apa yang bisa dilakukan baik oleh pemerintah, Bank Indonesia, maupun pengusaha," kata Darmin.
Lebih lanjut Darmin mengatakan, dalam situasi seperti sekarang ini, nomor satu yang paling tinggi nilainya adalah ekspor dan itu hanya bisa dilakukan oleh penguasa.
"Nah, kenapa begitu, ya itulah cara yang paling cepat dan juga menguntungkan mendapatkan devisa. Baru kemudian ada investasi, baik asing maupun dalam negeri," kata dia.
Hal itu karena Jokowi memanggil sejumlah menterinya mengenai beberapa persoalan, di antaranya soal keputusan Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Reserve (The Fed), yang menahan suku bunga acuan (Fed rate) selama hampir satu dekade.
Kendati demikian, mewakili Presiden Jokowi, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menerima kunjungan pengurus Iwapi.
"Presiden harus rapat mendadak untuk merespon The Fed yang tidak jadi menaikkan suku bunganya," kata Ketua Umum Iwapi Dyah Anita Prihapsari di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (18/9/2015).
Wanita yang akrab disapa Nita Yudi ini mengaku, keputusan orang nomor satu di negeri ini bisa dimaklumi. Lagipula, lanjut dia, Presiden Jokowi berjanji akan kembali menerima kedatangan pengurus Iwapi pada kesempatan berikutnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, maksud kedatangan pihaknya ke Istana untuk melaporkan hasil musyawarah nasional (Munas) ke-8. "Sejak 48 tahun lalu, sekarang ada 30.000 perempuan pengusaha," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan bahwa Presiden Jokowi mendadak ada pekerjaan, sehingga dia diminta untuk mewakili untuk bertemua dengan Iwapi.
Dia pun memberikan penjelasan kepada para pengurus Iwapi alasan Presiden Jokowi tidak bisa menemui lantaran pekerjaan terkait situasi ekonomi terkini dan paket kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Dalam pertemuan dengan pengurus Iwapi, dia mengaku membahas soal situasi ekonomi saat ini dan upaya yang harus dilakukan dengan pihak terkait, termasuk pengusaha.
"Intinya adalah mencoba menjelaskan ini situasi seperti apa sih sebetulnya dan apa yang bisa dilakukan baik oleh pemerintah, Bank Indonesia, maupun pengusaha," kata Darmin.
Lebih lanjut Darmin mengatakan, dalam situasi seperti sekarang ini, nomor satu yang paling tinggi nilainya adalah ekspor dan itu hanya bisa dilakukan oleh penguasa.
"Nah, kenapa begitu, ya itulah cara yang paling cepat dan juga menguntungkan mendapatkan devisa. Baru kemudian ada investasi, baik asing maupun dalam negeri," kata dia.
(rna)
Lihat Juga :