Rupiah Terus Tertekan, PHK Berlanjut hingga Akhir Tahun
Selasa, 22 September 2015 - 16:45 WIB
Rupiah Terus Tertekan, PHK Berlanjut hingga Akhir Tahun
A
A
A
JAKARTA - Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang memperkirakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini.
Kondisi itu, dia menuturkan, didukung kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang masih akan melemah sampai Rp15.000/USD, sehingga membebani perusahaan.
"Perkiraan kita sampai akhir tahun, rupiah berada di Rp14.500-15.000/USD. Kalau memang emiten banyak menggunakan USD, pasti PHK masih akan berlanjut," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Menurut dia, belum adanya penguatan rupiah dalam menghadapi perkasanya mata uang negara Paman Sam berdampak cukup parah ke perusahaan terbuka maupun belum.
"Efek domino parah berdampak ke emiten, perusahaan terbuka maupun tidak sama saja," jelas Edwin.
Dia menjelaskan, kondisi demikian membuat perusahaan memiliki pilihan untuk menaikan harga jual produknya atau menutup cabang yang ada.
"Daya beli masyarakat menurun, harga barang meningkat, emiten punya utang USD bisa tutup toko. Memotong biaya dengan menutup cabang tersebut yang secara ekonomi tidak menguntungkan," pungkasnya.
Baca:
PHK Makin Besar, JK Godok Insentif Buat Pengusaha
10 Perusahaan dengan PHK Terbesar dalam Dua Dekade
Kondisi itu, dia menuturkan, didukung kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang masih akan melemah sampai Rp15.000/USD, sehingga membebani perusahaan.
"Perkiraan kita sampai akhir tahun, rupiah berada di Rp14.500-15.000/USD. Kalau memang emiten banyak menggunakan USD, pasti PHK masih akan berlanjut," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (22/9/2015).
Menurut dia, belum adanya penguatan rupiah dalam menghadapi perkasanya mata uang negara Paman Sam berdampak cukup parah ke perusahaan terbuka maupun belum.
"Efek domino parah berdampak ke emiten, perusahaan terbuka maupun tidak sama saja," jelas Edwin.
Dia menjelaskan, kondisi demikian membuat perusahaan memiliki pilihan untuk menaikan harga jual produknya atau menutup cabang yang ada.
"Daya beli masyarakat menurun, harga barang meningkat, emiten punya utang USD bisa tutup toko. Memotong biaya dengan menutup cabang tersebut yang secara ekonomi tidak menguntungkan," pungkasnya.
Baca:
PHK Makin Besar, JK Godok Insentif Buat Pengusaha
10 Perusahaan dengan PHK Terbesar dalam Dua Dekade
(rna)
Lihat Juga :