Isi Paket Kebijakan III Jokowi Ini Dinilai Katrol Rupiah
Selasa, 13 Oktober 2015 - 14:15 WIB
Isi Paket Kebijakan III Jokowi Ini Dinilai Katrol Rupiah
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Aviliani menilai, salah satu isi dari paket kebijakan ekonomi jilid III Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu devisa hasil ekspor (DHE) menjadi sentimen yang mengatrol nilai tukar rupiah.
Aviliani menjelaskan, menguatnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bisa didorong oleh persepsi investor dari adanya kebaikan tersebut.
"Rupiah menguat, pertama karena mata uang dunia lain juga menguat. Kedua, persepsi DHE, dipotong pajak hasil ekspor masuk uang mereka. Ini yang jadi prediksi bakal menguatnya rupiah," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (13/10/2015).
Devisa hasil ekspor itu, lanjut dia, memungkinkan adanya potongan pajak bagi pelaku ekspor jika memasukkan USD ke dalam deposito. "Yang di paket kebijakan III, kalau devisa hasil eskpor dimasukkan ke Indonesia dapat potongan pajak ke deposito," jelas Aviliani.
Menurutnya, suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga bisa memengaruhi rupiah, karena kepastiannya yang masih belum jelas. "The Fed sudah pasti, tidak ada kejelasan, paket ekonomi juga menjadi pendorong tapi harus dilanjutkan implementasinya agar efektif," pungkas dia.
Aviliani menjelaskan, menguatnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) bisa didorong oleh persepsi investor dari adanya kebaikan tersebut.
"Rupiah menguat, pertama karena mata uang dunia lain juga menguat. Kedua, persepsi DHE, dipotong pajak hasil ekspor masuk uang mereka. Ini yang jadi prediksi bakal menguatnya rupiah," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (13/10/2015).
Devisa hasil ekspor itu, lanjut dia, memungkinkan adanya potongan pajak bagi pelaku ekspor jika memasukkan USD ke dalam deposito. "Yang di paket kebijakan III, kalau devisa hasil eskpor dimasukkan ke Indonesia dapat potongan pajak ke deposito," jelas Aviliani.
Menurutnya, suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga bisa memengaruhi rupiah, karena kepastiannya yang masih belum jelas. "The Fed sudah pasti, tidak ada kejelasan, paket ekonomi juga menjadi pendorong tapi harus dilanjutkan implementasinya agar efektif," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :