Rupiah Pekan Depan Diprediksi Cenderung Melemah
Sabtu, 17 Oktober 2015 - 10:27 WIB
Rupiah Pekan Depan Diprediksi Cenderung Melemah
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi, kondisi rupiah pekan depan cenderung melemah karena tertekan faktor eksternal, terutama dari kondisi perdagangan China.
"Ini kondisinya masih stabil cenderung melemah karena masih diombang ambing kondisi eksternal, ekspor China melemah dan mereka akan menurunkan cadangannya di bank sentral. Jadi mengindikasikan bahwa ekonomi China masih lesu," katanya kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (17/10/2015)
Dia memprediksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akan berada di kisaran Rp13.550-Rp13.650/USD pada pekan depan.
Sentimen lainnya yang akan mempengaruhi rupiah adalah menurunnya angka pengangguran di Amerika Serikat (AS) dan melemahnya mata uang emerging market.
"Sebetulnya tidak ada yang signifikan sih isunya, tapi data-data dari Eropa dan Amerika kan keluar ya, neraca perdagangan dan inflasi mereka. Jadi berapapun angkanya, itu akan berpengaruh ke rupiah kita," katanya.
Namun, David meyakini bahwa kondisi rupiah masih tetap aman berada di level Rp13.000/USD. Hal ini karena ada beberapa data di Amerika yang melemah dan paket kebijakan pemerintah yang setidaknya sudah membangun kepercayaan investor.
"Isu global tidak terlalu signifikan, Amerika juga datanya beberapa ada yang kurang bagus dan kebijakan pemerintah yang bisa mengembalikan kepercayaan investor," pungkasnya.
"Ini kondisinya masih stabil cenderung melemah karena masih diombang ambing kondisi eksternal, ekspor China melemah dan mereka akan menurunkan cadangannya di bank sentral. Jadi mengindikasikan bahwa ekonomi China masih lesu," katanya kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (17/10/2015)
Dia memprediksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akan berada di kisaran Rp13.550-Rp13.650/USD pada pekan depan.
Sentimen lainnya yang akan mempengaruhi rupiah adalah menurunnya angka pengangguran di Amerika Serikat (AS) dan melemahnya mata uang emerging market.
"Sebetulnya tidak ada yang signifikan sih isunya, tapi data-data dari Eropa dan Amerika kan keluar ya, neraca perdagangan dan inflasi mereka. Jadi berapapun angkanya, itu akan berpengaruh ke rupiah kita," katanya.
Namun, David meyakini bahwa kondisi rupiah masih tetap aman berada di level Rp13.000/USD. Hal ini karena ada beberapa data di Amerika yang melemah dan paket kebijakan pemerintah yang setidaknya sudah membangun kepercayaan investor.
"Isu global tidak terlalu signifikan, Amerika juga datanya beberapa ada yang kurang bagus dan kebijakan pemerintah yang bisa mengembalikan kepercayaan investor," pungkasnya.
(rna)