Penyaluran Kredit BTPN Tumbuh, Laba Turun
Senin, 19 Oktober 2015 - 15:38 WIB
Penyaluran Kredit BTPN Tumbuh, Laba Turun
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) pada akhir September 2015 membukukan kredit Rp56,9 triliun, tumbuh 11% dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp51,1 triliun (year on year/yoy). Namun laba perusahaan pada periode yang sama turun.
Pertumbuhan kredit didorong oleh peningkatan kredit ke segmen masyarakat prasejahtera produktif serta pelaku UMKM. Sementara kredit prasejahtera produktif naik 46% (yoy) menjadi Rp3,2 triliun dan kredit UMKM naik 31% (yoy) menjadi Rp15,2 triliun.
“Data ini memperlihatkan tingginya kebutuhan pendanaan di kelompok masyarakat bawah serta aktivitas UMKM yang tetap menggeliat di tengah perekonomian yang menantang,” kata Direktur Utama BTPN Jerry Ng dalam rilisnya di Jakarta, Senin (19/10/2015).
Dia melanjutkan, kenaikan penyaluran kredit tetap diimbangi dengan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebesar 0,8%. Menurutnya, rasio tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan data rata-rata NPL industri perbankan yang cenderung meningkat selama tiga kuartal terakhir.
Dia mengungkapkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga berhasil tumbuh 12% mencapai Rp59 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp52,6 triliun. Tingkat rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) mencapai 96% atau lebih baik dari posisi tahun lalu di level 97%.
“Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi dan pinjaman bilateral, rasio likuiditas BTPN berada di 87%, sangat kuat dan sehat,” ujar Jerry.
Sedangkan aset BTPN juga naik sebesar 12% (yoy) dari Rp71,7 triliun menjadi Rp80,1 triliun pada 30 September 2015. Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,8%. Sementara, laba bersih setelah pajak (NPAT) perseroan mengalami penurunan 3% menjadi Rp1,38 triliun.
“Jika tidak memperhitungkan investasi baru, laba kami sejatinya tumbuh positif. Kami optimistis, ke depan BTPN akan lebih baik lagi,” paparnya.
Pertumbuhan kredit didorong oleh peningkatan kredit ke segmen masyarakat prasejahtera produktif serta pelaku UMKM. Sementara kredit prasejahtera produktif naik 46% (yoy) menjadi Rp3,2 triliun dan kredit UMKM naik 31% (yoy) menjadi Rp15,2 triliun.
“Data ini memperlihatkan tingginya kebutuhan pendanaan di kelompok masyarakat bawah serta aktivitas UMKM yang tetap menggeliat di tengah perekonomian yang menantang,” kata Direktur Utama BTPN Jerry Ng dalam rilisnya di Jakarta, Senin (19/10/2015).
Dia melanjutkan, kenaikan penyaluran kredit tetap diimbangi dengan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebesar 0,8%. Menurutnya, rasio tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan data rata-rata NPL industri perbankan yang cenderung meningkat selama tiga kuartal terakhir.
Dia mengungkapkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga berhasil tumbuh 12% mencapai Rp59 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp52,6 triliun. Tingkat rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) mencapai 96% atau lebih baik dari posisi tahun lalu di level 97%.
“Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi dan pinjaman bilateral, rasio likuiditas BTPN berada di 87%, sangat kuat dan sehat,” ujar Jerry.
Sedangkan aset BTPN juga naik sebesar 12% (yoy) dari Rp71,7 triliun menjadi Rp80,1 triliun pada 30 September 2015. Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,8%. Sementara, laba bersih setelah pajak (NPAT) perseroan mengalami penurunan 3% menjadi Rp1,38 triliun.
“Jika tidak memperhitungkan investasi baru, laba kami sejatinya tumbuh positif. Kami optimistis, ke depan BTPN akan lebih baik lagi,” paparnya.
(rna)
Lihat Juga :