Ekonomi Korsel Kuartal III Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun
Jum'at, 23 Oktober 2015 - 15:13 WIB
Ekonomi Korsel Kuartal III Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun
A
A
A
SEOUL - Ekonomi Korea Selatan (Korsel) tumbuh pada laju tercepat dalam lima tahun pada kuartal III tahun ini, meski diserang oleh wabah mematikan
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada awal tahun ini.
Berdasarkan perkiraan awal yang diterbitkan, produk domestik bruto (PDB) Korsel tumbuh 1,2% dibanding kuartal sebelumnya. Ini menandai laju tercepat sejak kuartal II/2010 dan naik tajam dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 0,3%. Secara year on year (yoy), pertumbuhan ekonomi meningkat 2,6%, naik dari kuartal sebelumnya sebesar 2,2%.
Berdasarkan anngaran belanja, pembentukan modal tetap bruto naik 2,9% didorong oleh kenaikan aktivitas konstruksi. Investasi konstruksi tumbuh 4,5%, dengan peningkatan pada konstruksi bangunan dan teknik sipil. Selain itu, perusahaan juga investasi dalam mesin dan peralatan, sehingga meningkatkan fasilitas investasi.
Sementara konsumsi swasta naik 1,1% pada kuartal III, dipimpin naiknya belanja layanan dan barang tahan lama, sementara belanja pemerintah meningkat 1,9%.
"Kami berharap permintaan domestik tetap menjadi pendorong utama pemulihan, dibantu oleh langkah-langkah kebijakan yang mendukung," kata ekonom Asia di Capital Economics Krystal Tan dalam sebuah catatannya, seperti dilansir dari CNBC, Jumat (23/10/2015).
Dia menambahkan, Bank Sentral Korea Selatan telah memangkas suku bunga acuan empat kali sejak Agustus 2014, yang mendukung pertumbuhan kredit rumah tangga. "Dengan tekanan inflasi jinak, kebijakan moneter akan tetap longgar selama tahun depan," imbuh dia.
Selain dukungan moneter, pemerintah juga telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan perekonomian. Pada akhir Juli lalu, parlemen memberi anggaran tambahan 11,5 triliun won setara USD10,2 miliar untuk membantu mengatasi dampak ekonomi yang terkait dengan MERS.
Di sisi lain, ekspor menjadi hambatan utama pada ekonomi, mencerminkan permintaan eksternal yang lemah, terutama dari mitra dagang utama China. Ekspor mengalami kontraksi 0,2% pada kuartal III, dengan penurunan pengiriman LCD, produk kimia dan kapal. Sementara itu impor meningkat.
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada awal tahun ini.
Berdasarkan perkiraan awal yang diterbitkan, produk domestik bruto (PDB) Korsel tumbuh 1,2% dibanding kuartal sebelumnya. Ini menandai laju tercepat sejak kuartal II/2010 dan naik tajam dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 0,3%. Secara year on year (yoy), pertumbuhan ekonomi meningkat 2,6%, naik dari kuartal sebelumnya sebesar 2,2%.
Berdasarkan anngaran belanja, pembentukan modal tetap bruto naik 2,9% didorong oleh kenaikan aktivitas konstruksi. Investasi konstruksi tumbuh 4,5%, dengan peningkatan pada konstruksi bangunan dan teknik sipil. Selain itu, perusahaan juga investasi dalam mesin dan peralatan, sehingga meningkatkan fasilitas investasi.
Sementara konsumsi swasta naik 1,1% pada kuartal III, dipimpin naiknya belanja layanan dan barang tahan lama, sementara belanja pemerintah meningkat 1,9%.
"Kami berharap permintaan domestik tetap menjadi pendorong utama pemulihan, dibantu oleh langkah-langkah kebijakan yang mendukung," kata ekonom Asia di Capital Economics Krystal Tan dalam sebuah catatannya, seperti dilansir dari CNBC, Jumat (23/10/2015).
Dia menambahkan, Bank Sentral Korea Selatan telah memangkas suku bunga acuan empat kali sejak Agustus 2014, yang mendukung pertumbuhan kredit rumah tangga. "Dengan tekanan inflasi jinak, kebijakan moneter akan tetap longgar selama tahun depan," imbuh dia.
Selain dukungan moneter, pemerintah juga telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan perekonomian. Pada akhir Juli lalu, parlemen memberi anggaran tambahan 11,5 triliun won setara USD10,2 miliar untuk membantu mengatasi dampak ekonomi yang terkait dengan MERS.
Di sisi lain, ekspor menjadi hambatan utama pada ekonomi, mencerminkan permintaan eksternal yang lemah, terutama dari mitra dagang utama China. Ekspor mengalami kontraksi 0,2% pada kuartal III, dengan penurunan pengiriman LCD, produk kimia dan kapal. Sementara itu impor meningkat.
(rna)
Lihat Juga :