Rupiah Masih Rawan, Pemerintah Harus Ciptakan Ini

Sabtu, 31 Oktober 2015 - 11:03 WIB
Rupiah Masih Rawan,...
Rupiah Masih Rawan, Pemerintah Harus Ciptakan Ini
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih rawan jatuh, maka pemerintah harus menciptakan kepercayaan pasar dan melakukan tindakan konkret.

Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan, nilai mata uang ditentukan dua faktor. Pertama, faktor fundamental, faktor ini merupakan peranan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Masing-masing memiliki peranannya. BI untuk urusan moneter, sedangkan pemerintah memastikan devisa terpupuk dengan baik.

"Selama devisa tidak bisa dipupuk, ekspor kita tidak naik, sulit bagi Bank Indonesia untuk mengelola moneternya dengan baik," ungkap HT saat berkunjung ke redaksi media online Detik, di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurutnya, tidak bisa keduanya saling menyalahkan, sebab memiliki peranan masing-masing. Faktor kedua, kata HT, nilai tukar ditentukan confident level atau tingkat kepercayaan pasar.

Dia mengatakan, jika kebijkan moneter dan fiskal tidak meyakinkan dan masyarakat tidak yakin devisa akan naik, maka timbul berbagai spekulan. Tugas BI adalah melakukan monitoring dengan baik. Begitu pula pemerintah, harus memastikan fiskal dan ekspor baik, sehingga devisa bisa meningkat.

"Kebijakan-kebijakan pemerintah harus firm, jangan ragu-ragu, dan dieksekusi dengan benar. Sehingga menciptakan confident market, sehingga kurs bisa membaik," terangnya.

Saat ini kebijakan pemerintah, lanjut HT, masih belum total. Misalnya saja untuk persoalan perizinan. "Bagus mengurus izin tiga jam, tapi yang penting bukan izinnya saja. Sampai investasi terjadi, sampai pabriknya beroperasi. Masih ada prosesnya," ujarnya.
Proses impor barang modal, proses tenaga kerja, proses regulasi, dan lain sebagainya. Semua proses tersebut seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah.

Likuiditas pasar di Indonesia terhitung kecil. Ketika dihantam spekulan dengan ratusan juta dolar akan berbahaya bagi Indonesia. Permasalahan lainnya adalah devisa Indonesia yang kecil, pemerintah harus memperhatikan aktivitas ekspor-impor karena impor dibiayai menggunakan devisa.

Selain itu, pemerintah harus melakukan langkah konkret. Salah satunya transfer pricing yang merugikan negara. Praktik transfer pricing dilakukan oknum eksportir untuk mengurangi pajak ekspor. Caranya dengan mengirimkan produk ke perusahaan yang sama di negara yang berpajak rendah.

Pengiriman dilakukan dengan harga yang sudah diturunkan terlebih dulu, sehingga pajak yang dikenakan jauh lebih kecil.

Dia mencontohkan, produk yang harga jualnya USD100, dikirim terlebih dulu ke Singapura dengan harga USD60. Setelah dari Singapura baru dikirimkan ke negara tujuan, dengan harga USD100.

Akibatnya, pajak yang dikenakan atas produk tersebut lebih kecil. Singapura mendapatkan keuntungan dari praktik tersebut. Cara seperti ini, kata HT, sudah terjadi sejak zaman Orde Baru. "Transfer pricing ini korupsi. Penegakan hukum harus ditegakkan," tegasnya.

Dalam dialog tersebut, HT juga menyampaikan perjuangan Partai Perindo untuk mewujudkan Indonesia Sejahtera. "Partai Perindo memperjuangkan masyarakat menengah ke bawah agar tumbuh lebih cepat daripada masyarakat menengah ke atas," katanya.

Menurutnya, jika hal tersebut terjadi maka Indonesia akan lebih cepat menjadi negara maju. Sebab, Indonesia akan memiliki lebih banyak penggerak ekonomi.

Pemimpin Redaksi Detikcom Arifin Asydad mengatakan, Partai Perindo memiliki visi dan misi sangat baik. "Memang masyarakat kita masalahnya ekonomi pak, terutama kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial," katanya.

Dia mengatakan, apa yang diperjuangkan HT adalah bagian dari perjuangan demokrasi. Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Bidang Media dan Komunikasi Massa Arya Sinulingga, Ketua Bidang Litbang dan IT Sururi Alfaruq

Selain itu, juga Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Fathur Rahman, Ketua Bidang Politik dan Kebijakan Publik M Yamin Tawary, Wasekjen Donny Ferdiansyah, Wasekjen Muhammad Amin, dan Wasekjen Muhammad Sopiyan.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
4 menit yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
28 menit yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
1 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
2 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
2 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
5 jam yang lalu
Infografis
Jakarta Gencar Bersih-bersih...
Jakarta Gencar Bersih-bersih Ikan Sapu-sapu, Ini Alasannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved