Kenaikan Bunga The Fed Tak Jamin Ketidakpastian Ekonomi Lenyap
Rabu, 25 November 2015 - 19:25 WIB
Kenaikan Bunga The Fed Tak Jamin Ketidakpastian Ekonomi Lenyap
A
A
A
JAKARTA - Mantan Staf Khusus (Stafsus) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bidang Ekonomi Firmanzah mengatakan, kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate) tidak menjamin ketidakpastian perekonomian global lenyap.
Dia menerangkan, data di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa saat pemerintah menaikkan suku bunga acuannya secara berkala dari 1950 hingga 2004, tidak serta merta membuat situasi perekonomian kala itu membaik.
"Kalau dikatakan jika suku bunga AS dinaikkan, maka sumber ketidakpastian dunia akan hilang, saya melihat belum tentu," ujarnya di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
Firmanzah menuturkan, pada 1950 Negeri Paman Sam pernah melakukan penyesuaian suku bunga. Alih-alih membaik, pada 11 bulan berikutnya perekonomian AS justru masuk masa resesi.
"Jadi kita perlu berhati-hati. Selama ini sumber ketidakpastian yang mengenai kita sudah ada dari kuartal III/2013. Jadi, kita masih menghadapi risiko itu," jelasnya.
Dia menyebutkan, jika pada Desember 2015 The Fed menaikkan suku bunganya, maka perlu waktu enam bulan untuk penyesuaian. Sehingga, investor dunia akan coba mengkonsolidasikan asetnya terlebih dahulu.
"Jadi kalau enam bulan maka sampai Juni 2016 kita masih menghadapi risiko pembalikan modal kalau kita tidak hati-hati," tandasnya.
Baca juga:
JK dan BI Gaduh Bikin Ekonomi RI Makin Tidak Pasti
BI: RI Masih Hadapi Risiko Ketidakpastian Ekonomi Global
BI Bentengi Rupiah dari Terjangan Gejolak Ekonomi Global
Dia menerangkan, data di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa saat pemerintah menaikkan suku bunga acuannya secara berkala dari 1950 hingga 2004, tidak serta merta membuat situasi perekonomian kala itu membaik.
"Kalau dikatakan jika suku bunga AS dinaikkan, maka sumber ketidakpastian dunia akan hilang, saya melihat belum tentu," ujarnya di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (25/11/2015).
Firmanzah menuturkan, pada 1950 Negeri Paman Sam pernah melakukan penyesuaian suku bunga. Alih-alih membaik, pada 11 bulan berikutnya perekonomian AS justru masuk masa resesi.
"Jadi kita perlu berhati-hati. Selama ini sumber ketidakpastian yang mengenai kita sudah ada dari kuartal III/2013. Jadi, kita masih menghadapi risiko itu," jelasnya.
Dia menyebutkan, jika pada Desember 2015 The Fed menaikkan suku bunganya, maka perlu waktu enam bulan untuk penyesuaian. Sehingga, investor dunia akan coba mengkonsolidasikan asetnya terlebih dahulu.
"Jadi kalau enam bulan maka sampai Juni 2016 kita masih menghadapi risiko pembalikan modal kalau kita tidak hati-hati," tandasnya.
Baca juga:
JK dan BI Gaduh Bikin Ekonomi RI Makin Tidak Pasti
BI: RI Masih Hadapi Risiko Ketidakpastian Ekonomi Global
BI Bentengi Rupiah dari Terjangan Gejolak Ekonomi Global
(dmd)
Lihat Juga :