Butuh Pemimpin Cerdas Akselerasi Pembangunan Daerah

Rabu, 16 Desember 2015 - 21:28 WIB
Butuh Pemimpin Cerdas...
Butuh Pemimpin Cerdas Akselerasi Pembangunan Daerah
A A A
BANDUNG - Chief of Economist BNI Ryan Kiryanto mengemukakan, dibutuhkan pemimpin yang cerdas untuk mengakselerasi pembangunan daerah. Pola pendanaan pembangunan yang konvensional dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak akan cukup.

“Alternatifnya bisa melalui perbankan, tapi jauh lebih komersial. Ada opsi lain, yaitu penerbitan obligasi daerah dan kerja sama pemerintah-swasta (KPS),” ujarnya dalam Local Economic Forum yang diselenggarakan Koran SINDO dengan BNI di Hotel Panghegar, Bandung, Rabu (16/12/2015).

Pola pendanaan obligasi daerah, lanjut Ryan, bisa dalam jangka waktu 7 tahun dengan tingkat bunga 8% yang digunakan untuk mendanai pasar tradisional, membangun jembatan atau jalan raya.

“Dari mana mengembalikannya? Bisa dari PDRB yang naik hasil dorongan pembangunan infrastruktur yang didanai melalui pola obligasi daerah itu,” terangnya.

Berbeda dengan opsi lain, yaitu KPS dengan pola pemda menggandeng pihak swasta. Pemerintah menyediakan lahan, swasta hadir melalui dananya. Ada kompensasi dalam KPS, misalnya pemda bangun jalan tol, memberi konsesi pengelolaan jalan tol tersebut selama 20 tahun dengan berbagai perjanjian. “Selesai 20 tahun itu, perpindahan pengelolaan dari swasta ke pemerintah,” lanjut Ryan.

Namun, terang dia, perlu orang-orang di pemerintahan yang familiar dengan konsep ekonomi seperti itu. Paradigma pemerintah yang lebih punya pemikiran pengusaha agar terjadi harmoni antara keinginan pemerintah dengan pengusaha. “Pemerintah membuka diri dengan pengusaha untuk kolaborasi,” tambahnya.

Dia menegaskan, banyaknya opsi pendanaan tersebut memperlihatkan betapa keterbatasan dana bukan masalah dalam pembangunan. Para kepala daerah harus diajak berpikir kreatif, mencari terobosan. Pembangunan infrastruktur yang cepat akan membuka banyak lapangan kerja dan menumbuhkan perekonomian suatu daerah.

“Tapi harus diingat, pilih salah satu opsi. Jangan keduanya sesuai dengan kondisi daerah. Takutnya terjadi over financing. Lihat kemampuan financial daerah itu. Kalau terbatas pake KPS, kalau punya dana kuat pakai obligasi daerah,” tandasnya.

Baca juga:

Peluang Pengembangan Bisnis Perbankan di Jabar Besar

Ekonom Sayangkan Tingginya Ketergantungan Impor

Bangun Infrastruktur, Pemkot Bandung Terapkan Skema KPS
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jadi Senjata Pikat Cewek,...
Jadi Senjata Pikat Cewek, Ini Tips Mengasah Selera Humormu
Selamat Jalan Mas Edi...Kebaikanmu...
Selamat Jalan Mas Edi...Kebaikanmu Akan Selalu Kami Kenang
Tiga Jurnalis SINDO...
Tiga Jurnalis SINDO Raih Juara Lomba Tulis dan Foto Telkomsel
Telkom Indonesia dan...
Telkom Indonesia dan SINDO Makassar Perpanjang Kerjasama
HUT ke-16, Ini Link...
HUT ke-16, Ini Link Registrasi Webinar Koran Sindo: Tren Bank Digital dan Geliat UMKM Go International
Indonesiasentris & Pembangunan...
Indonesiasentris & Pembangunan Seluruh Rakyat Indonesia
Berita Terkini
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
35 menit yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
55 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
1 jam yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
1 jam yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
1 jam yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
2 jam yang lalu
Infografis
Khamenei Tewas, 4 Nama...
Khamenei Tewas, 4 Nama Masuk Bursa Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved