BI: Kenaikan Fed Rate Beri Efek Mixed di Pasar
Kamis, 17 Desember 2015 - 13:20 WIB
BI: Kenaikan Fed Rate Beri Efek Mixed di Pasar
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ronald Waas menyatakan, ‎kenaikan Fed Fund Rate menjadi 0,25%-0,5% memiliki reaksi pasar yang berbeda-beda atau mixed (variatif), karena ada yang positif dan ada pula yang tertekan.
"Ada analis yang bilang positif (pasar Indonesia). Jadi mix ya reaksi pasarnya. Ada negara-negara yang memandang positif terhadap perekonomian mereka, tapi ada yang mengalami tekanan. Tapi ini baru beberapa jam ya," kata Ronald di Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Dia mengatakan, efek dari kenaikan ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku pasar sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Sehingga tidak terlalu kaget.
"Seperti yang saya sampaikan, semuanya sudah dipersiapkan, sehingga reaksinya tidak seburuk kalau terjadi tiba-tiba. Dunia seolah sudah menyiapkan segala kemungkinan, jadi ya seolah tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Ronald mengatakan, setidaknya kecemasan dan kekhawatiran pasar terhadap Fed Rate sudah reda dengan adanya keputusan tersebut lantaran mereka telah digantung selama dua tahun lamanya.
"Saya rasa ya, setidaknya kalau ada keputusan kan mengurangi ketidakpastian ya," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dilansir dari Reuters, Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar seperempat poin menjadi 0,25%-0,5%.
"Saya merasa yakin dengan hal yang mendasari. Kami khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar," ujar Yellen seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang dalam perekonomian.
Salah satu analisis baru-baru ini memperkirakan kenaikan 1% suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar 3%.
Fed mencatat ada peningkatan cukup di pasar tenaga kerja AS, di mana tingkat pengangguran jatuh ke level 5% dan cukup yakin inflasi akan meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara bertahap," ucap Yellen.
Baca Juga:
The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan 0,25%
Ini Tanggapan Jokowi Atas Kenaikan Fed Rate
"Ada analis yang bilang positif (pasar Indonesia). Jadi mix ya reaksi pasarnya. Ada negara-negara yang memandang positif terhadap perekonomian mereka, tapi ada yang mengalami tekanan. Tapi ini baru beberapa jam ya," kata Ronald di Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Dia mengatakan, efek dari kenaikan ini tidak semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya, lantaran pelaku pasar sudah mempersiapkan, otoritas juga sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Sehingga tidak terlalu kaget.
"Seperti yang saya sampaikan, semuanya sudah dipersiapkan, sehingga reaksinya tidak seburuk kalau terjadi tiba-tiba. Dunia seolah sudah menyiapkan segala kemungkinan, jadi ya seolah tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Ronald mengatakan, setidaknya kecemasan dan kekhawatiran pasar terhadap Fed Rate sudah reda dengan adanya keputusan tersebut lantaran mereka telah digantung selama dua tahun lamanya.
"Saya rasa ya, setidaknya kalau ada keputusan kan mengurangi ketidakpastian ya," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dilansir dari Reuters, Komite Pengatur Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar seperempat poin menjadi 0,25%-0,5%.
"Saya merasa yakin dengan hal yang mendasari. Kami khawatir dengan risiko dari ekonomi global. Risiko tersebut bertahan, tetapi ekonomi AS telah menunjukkan kekuatan besar," ujar Yellen seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (17/12/2015).
Namun, langkah itu akan mendorong ledakan refinancing dan mendorong harga rumah lebih tinggi. Biaya kredit mobil juga diperkirakan akan meningkat, peredupan salah satu tempat paling terang dalam perekonomian.
Salah satu analisis baru-baru ini memperkirakan kenaikan 1% suku bunga bisa memperlambat penjualan mobil sekitar 3%.
Fed mencatat ada peningkatan cukup di pasar tenaga kerja AS, di mana tingkat pengangguran jatuh ke level 5% dan cukup yakin inflasi akan meningkat dalam jangka menengah ke arah 2%.
Bank sentral menjelaskan kenaikan suku bunga adalah awal dari siklus pengetatan likuiditas dan dalam memutuskan langkah berikutnya yang menempatkan pada pemantauan inflasi, yang masih terperosok di bawah target. "Proses ini akan berlanjut secara bertahap," ucap Yellen.
Baca Juga:
The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan 0,25%
Ini Tanggapan Jokowi Atas Kenaikan Fed Rate
(izz)
Lihat Juga :