Tawarkan Harga Saham Tak Masuk Akal, Freeport Dikte Pemerintah
Minggu, 17 Januari 2016 - 19:58 WIB
Tawarkan Harga Saham Tak Masuk Akal, Freeport Dikte Pemerintah
A
A
A
JAKARTA - Energy Watch Indonesia menilai harga 10,64% saham yang ditawarkan PT Freeport Indonesia dalam rangka kewajiban divestasinya tersebut tidak masuk akal. Sebab, harga sebesar USD1,7 miliar itu terlalu tinggi untuk harga saham Freeport yang sedang jatuh di bursa saham dunia.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan, saham Freeport McMoran di bursa saham global turun lebih dari 20% hingga menjadi USD4 per saham. Sehingga, untuk 10,64% saham tersebut harganya hanya sekitar USD500 juta.
"Kita minta pada pemerintah mengevaluasi dan kalau perlu menolak. Karena terlalu enggak masuk akal bahkan terlalu tinggi. Saham Freeport itu turun 20% lebih ke USD4 per saham," katanya di Jakarta, Minggu (17/1/2016).
Menurutnya, dengan menawarkan harga saham yang kelewat tinggi tersebut Freeport sedang mendikte Indonesia. Karena itu, pemerintah harus menolaknya karena bisa merugikan negara.
"Ini sangat tidak elok apa yang dilakukan Freeport terlalu tinggi. Mereka mestinya punya tawaran harga yang baik untuk sahamnya sendiri. Tidak boleh memark-up kemudian menawarkan divestasi ini akan merugikan negara," tutur dia.
Ferdinand menambahkan, induk Freeport di Amerika Serikat (AS) saat ini sedang jatuh. Jadi jika dihitung harga sahamnya secara keseluruhan tidak sampai USD16,2 miliar seperti yang dinyatakannya, melainkan hanya sekitar USD10 miliar.
"Dari total saham itu kita hitung nilainya berapa kemudaan kita hitung 10,64% berapa. Malah bukan Rp16 miliar malah Rp10 miliar. Barunya 10,64% itu sekitar USD500 juta dari divestasi yang ditawarkan," tandasnya.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan, saham Freeport McMoran di bursa saham global turun lebih dari 20% hingga menjadi USD4 per saham. Sehingga, untuk 10,64% saham tersebut harganya hanya sekitar USD500 juta.
"Kita minta pada pemerintah mengevaluasi dan kalau perlu menolak. Karena terlalu enggak masuk akal bahkan terlalu tinggi. Saham Freeport itu turun 20% lebih ke USD4 per saham," katanya di Jakarta, Minggu (17/1/2016).
Menurutnya, dengan menawarkan harga saham yang kelewat tinggi tersebut Freeport sedang mendikte Indonesia. Karena itu, pemerintah harus menolaknya karena bisa merugikan negara.
"Ini sangat tidak elok apa yang dilakukan Freeport terlalu tinggi. Mereka mestinya punya tawaran harga yang baik untuk sahamnya sendiri. Tidak boleh memark-up kemudian menawarkan divestasi ini akan merugikan negara," tutur dia.
Ferdinand menambahkan, induk Freeport di Amerika Serikat (AS) saat ini sedang jatuh. Jadi jika dihitung harga sahamnya secara keseluruhan tidak sampai USD16,2 miliar seperti yang dinyatakannya, melainkan hanya sekitar USD10 miliar.
"Dari total saham itu kita hitung nilainya berapa kemudaan kita hitung 10,64% berapa. Malah bukan Rp16 miliar malah Rp10 miliar. Barunya 10,64% itu sekitar USD500 juta dari divestasi yang ditawarkan," tandasnya.
(dol)
Lihat Juga :