RI Harus Lompat Empat Kali Lipat untuk Jadi Negara Maju
Selasa, 19 Januari 2016 - 07:56 WIB
RI Harus Lompat Empat Kali Lipat untuk Jadi Negara Maju
A
A
A
MALANG - Indonesia harus melompat empat kali lebih jauh dari kondisi saat ini jika ingin menjadi negara maju. Ekonomi Indonesia saat ini masih jauh tertinggal dibanding dengan negara lainnya, yang ditandai dengan pendapatan per kapita Indonesia masih sangat minim.
CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) mengungkapkan, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) sudah memiliki pendapatan per kapita sebesar USD50 ribu. Sementara di wilayah Asia, seperti Korea Selatan sudah memiliki pendapatan per kapita USD30 ribu, Singapura USD50 ribu dan Malaysia USD10 ribu.
Sementara, pendapatan per kapita Indonesia posisinya masih berada di angka USD3.400. Padahal, jika merujuk pada parameter internasional, yang termasuk golongan negara maju itu jika pendapatan per kapita suatu negara minimal USD12 ribu.
Artinya, kata dia, pendapatan masyarakat di negara tersebut per tahun per orang minimal rata-rata USD12 ribu. Maka, masuk dikategorikan sebagai negara maju.
"Jadi, yang saya ingin garis bawahi di sini, kita sudah merdeka lebih dulu dibanding negara Asia lainnya. Sudah 70 tahun kita merdeka, tapi kita masih harus lompat empat kali lebih jauh untuk dikategorikan sebagai negara maju dalam ukuran internasional," kata HT ketika memberikan kuliah umum di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, kemarin.
Dia menilai, hal ini merupakan tantangan luar biasa besar dan tidak mudah untuk mencapai cita-cita menjadi negara maju. Terlebih 70% masyarakat Indonesia masuk di bawah kategori tertinggal. Walau begitu, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, bukan tidak mungkin hal tersebut bisa diraih.
"Ini memang tantangan yang tidak mudah. Tapi mau tidak mau harus kita lakukan kalau kita mau bersaing," ujarnya.
Karena itu, lanjut HT, pemerintah harus membangun ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat. Caranya, memberdayakan masyarakat kelas ekonomi bawah untuk bisa tumbuh lebih tinggi secara cepat. Namun, bukan berarti kelas menegah ke atas lalu ditekan agar tumbuhnya lebih kecil.
"Jadi, pemerintah harus mengubah pola pembangunan ekonomi saat ini. Jangan melulu arah pembangunan lebih cenderung terfokus pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas," jelas Ketua Umum Partai Perindo ini.
"Yang menengah ke bawah ini harus dibantu, sehingga mereka bisa tumbuh lebih cepat. Dengan begitu, kelas ekonomi mereka bisa meningkat dan bisa memberikan kontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tandas dia.
CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) mengungkapkan, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) sudah memiliki pendapatan per kapita sebesar USD50 ribu. Sementara di wilayah Asia, seperti Korea Selatan sudah memiliki pendapatan per kapita USD30 ribu, Singapura USD50 ribu dan Malaysia USD10 ribu.
Sementara, pendapatan per kapita Indonesia posisinya masih berada di angka USD3.400. Padahal, jika merujuk pada parameter internasional, yang termasuk golongan negara maju itu jika pendapatan per kapita suatu negara minimal USD12 ribu.
Artinya, kata dia, pendapatan masyarakat di negara tersebut per tahun per orang minimal rata-rata USD12 ribu. Maka, masuk dikategorikan sebagai negara maju.
"Jadi, yang saya ingin garis bawahi di sini, kita sudah merdeka lebih dulu dibanding negara Asia lainnya. Sudah 70 tahun kita merdeka, tapi kita masih harus lompat empat kali lebih jauh untuk dikategorikan sebagai negara maju dalam ukuran internasional," kata HT ketika memberikan kuliah umum di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, kemarin.
Dia menilai, hal ini merupakan tantangan luar biasa besar dan tidak mudah untuk mencapai cita-cita menjadi negara maju. Terlebih 70% masyarakat Indonesia masuk di bawah kategori tertinggal. Walau begitu, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, bukan tidak mungkin hal tersebut bisa diraih.
"Ini memang tantangan yang tidak mudah. Tapi mau tidak mau harus kita lakukan kalau kita mau bersaing," ujarnya.
Karena itu, lanjut HT, pemerintah harus membangun ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat. Caranya, memberdayakan masyarakat kelas ekonomi bawah untuk bisa tumbuh lebih tinggi secara cepat. Namun, bukan berarti kelas menegah ke atas lalu ditekan agar tumbuhnya lebih kecil.
"Jadi, pemerintah harus mengubah pola pembangunan ekonomi saat ini. Jangan melulu arah pembangunan lebih cenderung terfokus pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas," jelas Ketua Umum Partai Perindo ini.
"Yang menengah ke bawah ini harus dibantu, sehingga mereka bisa tumbuh lebih cepat. Dengan begitu, kelas ekonomi mereka bisa meningkat dan bisa memberikan kontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tandas dia.
(izz)
Lihat Juga :