BUMN Ngebet Beli Saham, Sinyal Kontrak Freeport Diperpanjang
Kamis, 21 Januari 2016 - 18:26 WIB
BUMN Ngebet Beli Saham, Sinyal Kontrak Freeport Diperpanjang
A
A
A
JAKARTA - Rencana dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) untuk membeli saham divestasi PT Freeport Indonesia, menurut DPR RI menjadi sinyal bahwa kontrak perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) itu akan diperpanjang.
(Baca Juga: Menteri Rini Ngebet BUMN Serap Saham Freeport 30%)
Anggota Komisi VI DPR RI M Farid Alfauzi menilai, pada dasarnya kekuatan finansial dua perusahaan pelat merah ini cukup untuk membeli 10,64% saham divestasi Freeport dengan nilai USD1,7 miliar atau setara Rp23,5 triliun (kurs rupiah Rp13.800/USD). Hanya saja, pembelian saham tersebut menurutnya menjadi sinyal awal pemerintah untuk memperpanjang kontrak Freeport.
"Persoalannya bukan itu, pembelian saham kepada Freeport itu sesungguhnya peneguhan terhadap perpanjangan kontrak. Itu persoalan yang harus kita cermati," katanya di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (21/1/2016).
Dia menjelaskan jika kontrak Freeport tidak diperpanjang pasca berakhir 2021, maka sahamnya akan merosot. Hal tersebut tentu menjadi sumber kerugian negara. "Kenapa kita harus beli hari ini. Itu masalah yang menjadi discuss di Komisi VI. Apakah pembelian ini tidak merugikan bagi kita," sambungnya.
(Baca Juga: BUMN Minta Diberi Kesempatan Serap Saham Freeport)
Sejak harga komoditas di pasar global merosot, sambungnya harga saham raksasa tambang Paman Sam tersebut terus meluncur di pasar saham. Maka dari itu, Dia mengingatkan jangan sampai pembelian saham ini menjadi kerugian bagi Indonesia beberapa tahun ke depan.
"Saham Freeport turun jauh hari ini. Ditawarkan disini dengan harga itu (USD1,7 miliar untuk porsi 10,64% saham). Dengan posisi harga tersebut di pasar saham, kita harus pertimbangan kembali membelinya. Pertama, karena itu peneguhan terhadap perpanjangan kontrak karya. Kedua, kalau benar menurun, maka kerugian besar bagi kita," jelasnya.
Sementara terkait perpanjangan kontrak Freeport, tambah Dia pihaknya menilai bahwa perusahaan tambang kelas kakap tersebut sebaiknya tidak diperpanjang. "Karena apalagi selama ini diekspornya dalam bentuk konsentrat. Kita tidak tahu kandungan emasnya berapa," tandasnya.
(Baca Juga: Menteri Rini Ngebet BUMN Serap Saham Freeport 30%)
Anggota Komisi VI DPR RI M Farid Alfauzi menilai, pada dasarnya kekuatan finansial dua perusahaan pelat merah ini cukup untuk membeli 10,64% saham divestasi Freeport dengan nilai USD1,7 miliar atau setara Rp23,5 triliun (kurs rupiah Rp13.800/USD). Hanya saja, pembelian saham tersebut menurutnya menjadi sinyal awal pemerintah untuk memperpanjang kontrak Freeport.
"Persoalannya bukan itu, pembelian saham kepada Freeport itu sesungguhnya peneguhan terhadap perpanjangan kontrak. Itu persoalan yang harus kita cermati," katanya di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (21/1/2016).
Dia menjelaskan jika kontrak Freeport tidak diperpanjang pasca berakhir 2021, maka sahamnya akan merosot. Hal tersebut tentu menjadi sumber kerugian negara. "Kenapa kita harus beli hari ini. Itu masalah yang menjadi discuss di Komisi VI. Apakah pembelian ini tidak merugikan bagi kita," sambungnya.
(Baca Juga: BUMN Minta Diberi Kesempatan Serap Saham Freeport)
Sejak harga komoditas di pasar global merosot, sambungnya harga saham raksasa tambang Paman Sam tersebut terus meluncur di pasar saham. Maka dari itu, Dia mengingatkan jangan sampai pembelian saham ini menjadi kerugian bagi Indonesia beberapa tahun ke depan.
"Saham Freeport turun jauh hari ini. Ditawarkan disini dengan harga itu (USD1,7 miliar untuk porsi 10,64% saham). Dengan posisi harga tersebut di pasar saham, kita harus pertimbangan kembali membelinya. Pertama, karena itu peneguhan terhadap perpanjangan kontrak karya. Kedua, kalau benar menurun, maka kerugian besar bagi kita," jelasnya.
Sementara terkait perpanjangan kontrak Freeport, tambah Dia pihaknya menilai bahwa perusahaan tambang kelas kakap tersebut sebaiknya tidak diperpanjang. "Karena apalagi selama ini diekspornya dalam bentuk konsentrat. Kita tidak tahu kandungan emasnya berapa," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :