Tolak Perpanjang Kontrak, RI Bakal Terhindar Ampas Freeport

Jum'at, 22 Januari 2016 - 20:28 WIB
Tolak Perpanjang Kontrak,...
Tolak Perpanjang Kontrak, RI Bakal Terhindar Ampas Freeport
A A A
JAKARTA - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan tidak rela apabila Indonesia hanya mendapatkan ampas dari ladang tambang di Grasberg, Papua yang selama ini dikeruk PT Freeport Indonesia. Menurutnya pemerintah perlahan harus mengambil alih tambang Papua dari Freeport.

(Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Tak Akan Ambil Divestasi Freeport)

Dia menambahkan pemerintah sebaiknya tidak lagi memperpanjang izin operasi Freeport yang akan habis pada 2021. Mulai saat ini, menurutnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam hal ini PT Aneka Tambang (Persero) Tbk harus dipersiapkan untuk mengambil alih dari perusahaan raksasa tambang Paman Sam tersebut.

"Kalau saya tidak ada lagi perpanjangan di masa yang akan datang. Tapi kita mulai siapkan dari 2021 Antam masuk sebagai operator bersama. Jadi jangan asing sudah nikmati banyak, baru ampas-ampasnya BUMN suruh masuk. Ini kacau," ujarnya di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Secara bertahap, sambung mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini, Antam harus memiliki kepemilikan saham mayoritas dari tambang Grasberg yang selama ini dikelola Freeport. "Antam mulai 2021 dengan 30% dan berikutnya lagi sampai 20 tahun Hingga Antam mayoritas 60%. Tidak ada lagi istilah diperpanjang," sambungnya

Sementara terkait izin ekspor Freeport yang berakhir pada 28 Januari 2016, menurutnya sudah semakin semrawut dan bakal menyulitkan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut. Betapa tidak, Freeport diminta untuk menyerahkan uang jaminan pembangunan pabrik pengolahan pemurnian konsentrat (smelter) sebesar USD530 juta agar dapat memperoleh izin ekspor.

Namun, Freeport belum mendapat kepastian perpanjangan izin operasi pasca 2021. Ekonom senior Indef ini menilai, perusahaan tambang kelas kakap ini tidak akan membangun smelter jika belum ada kejelasan mengenai perpanjangan izin operasi.

"Jadi sesuatu yang sangat mustahil orang bangun smelter kalau belum ada kejelasan diperpanjang. Sederhananya seperti itu. Ini sudah macet semua. Izin ekspor konsentrat dikeluarkan kalau dibangun smelter. Dia bangun smelter kalau diperpanjang. Kenapa susah sih," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Freeport Teriak Izin...
Freeport Teriak Izin Ekspor Belum Terbit, Begini Jawaban Kementerian ESDM
Telan Dana USD1,5 Miliar,...
Telan Dana USD1,5 Miliar, Progres Smelter Freeport Capai 34,9%
7 Pekerja Freeport Terjebak...
7 Pekerja Freeport Terjebak Longsor di Tambang Bawah Tanah, ESDM Pastikan Penanganan Cepat
Pembangunan Smelter...
Pembangunan Smelter Freeport Baru 6%, DPR: Akal-akalan Saja!
Freeport Terancam Tak...
Freeport Terancam Tak Bisa Ekspor Usai Juni 2023, Begini Perkaranya
Menteri ESDM Kirim Tim...
Menteri ESDM Kirim Tim Investigasi Terkait Kebakaran Smelter Freeport
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
3 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
3 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
3 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
4 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
4 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved