Ironis, Hanya 1% Produk RI Mampu Bersaing di Internasional
Jum'at, 11 Maret 2016 - 13:46 WIB
Ironis, Hanya 1% Produk RI Mampu Bersaing di Internasional
A
A
A
JAKARTA - Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak awal tahun ini, menurut CEO Wardour and Oxford Wempy Dyocta Koto jangan sampai merugikan Indonesia. Produk domestik Tanah Air dikhawatirkan tergerus produk asing, lantaran hanya 1% produk industri domestik yang mampu berkompetisi di kancah Internasional.
“Ironis, sampai tahun 2015, hanya sekitar 1 persen produk industri domestik yang dapat berkompetisi di kancah internasional. Artinya, Indonesia harus berjuang dengan kompleksitas sistem perdagangan dan jangan sampai Indonesia dirugikan dengan adanya MEA,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (11/3/2016).
Dia menambahkan pemerintah Indonesia harus betul-betul memperbaiki sistem regulasi perdagangan Internasional, terutama dalam hal tarif dan pembatasan komoditas tertentu. Menurutnya sebanyak 30% produk industri level menengah asal Indoensia dapat terancam dengan realisasi MEA jika tidak ditangani baik.
Lanjut dia dalam analisinya bahwa kemampunan kompetisi yang rendah disebabkan adanya keterbatasan infrastruktur Indonesia sehingga bisnis lokal tidak mampu menurunkan biaya produksi.
“Hal itu tidak lepas dari kondisi geografis Indonesia. Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan biaya logistik paling tinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya,” pungkasnya.
“Ironis, sampai tahun 2015, hanya sekitar 1 persen produk industri domestik yang dapat berkompetisi di kancah internasional. Artinya, Indonesia harus berjuang dengan kompleksitas sistem perdagangan dan jangan sampai Indonesia dirugikan dengan adanya MEA,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (11/3/2016).
Dia menambahkan pemerintah Indonesia harus betul-betul memperbaiki sistem regulasi perdagangan Internasional, terutama dalam hal tarif dan pembatasan komoditas tertentu. Menurutnya sebanyak 30% produk industri level menengah asal Indoensia dapat terancam dengan realisasi MEA jika tidak ditangani baik.
Lanjut dia dalam analisinya bahwa kemampunan kompetisi yang rendah disebabkan adanya keterbatasan infrastruktur Indonesia sehingga bisnis lokal tidak mampu menurunkan biaya produksi.
“Hal itu tidak lepas dari kondisi geografis Indonesia. Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan biaya logistik paling tinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya,” pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :