Wall Street Berakhir Mixed Saat Saham Energi Tertekan
Selasa, 29 Maret 2016 - 09:13 WIB
Wall Street Berakhir Mixed Saat Saham Energi Tertekan
A
A
A
NEW YORK - Indeks Wall Street kemarin waktu setempat di awal pekan berakhir variatif setelah data ekonomi tidak berpengaruh terlalu besar begitupun dengan potensi penurunan kembali suku bunga acuan (Fed rate). Sementara penurunan harga minyak mentah dunia membuat saham energi tertekan dan jadi sentimen negatif untuk pergerakan pasar modal Amerika Serikat (AS).
Dilansir Reuters, Selasa (29/3/2016) tingkat konsumsi AS tercatat tidak mengalami kenaikan signifikan pada bulan Februari dan The Fed (Bank Sentral AS) diusulkan untuk berhati-hati sebelum mengambil keputusan seputar penurunan suku bunga acuan tahun ini. Sementara perdagangan cenderung bergerak mixed dengan volume rendah hari ini ketika pasar Eropa masih libur.
Indeks S&P sebagian besar mulai pulih setelah penurunan 10% di awal 2016 lalu, meski begitu masih banyak investor yang tetap waspada terhadap peluang kenaikan kembali Fed rate, dampak harga minyak dunia yang masih bergerak tidak beraturan dan ekonomi global. "Saya pikir kita tidak cukup kuat. Saya sudah melihat kita kehilangan beberapa momentum dalam satu pekan terakhir," jelas Analis Teknis Wellington perisai & Co, Frank Gretz.
Investor diprediksi akan memberikan perhatian penuh kepada pidato Janet Yellen di New York pada tengah pekan ini untuk melihat pentunjuk tentang kapan The Fed kemungkinan menaikkan suku bunga. "Kami akan mengawasi untuk melihat apakah ada perubahan dalam bahasa atau pandangannya. Tapi saya harap dia tidak melakukan hal apapun yang bisa mengejutkan pasar," jelas Kepala Greentree Brokerage Services, Warren West.
Indeks S & P naik 0,51% dan 0,435%, sedangkan sektor utilitas SPLRCU kehilangan 0,36% dan indeks energi SPNY melemah 0,34%. Harga minyak mentah sendiri lebih rendah berada di bawah USD40 per barel. Tercatat Dow Jones industrial average (DJI) naik 0,11% atau 17.535,39 poin serta indeks S & P 500 menyusut 0,05% ke level 2.037,05. Sementara Komposit Nasdaq turun 0,14% menjadi 4.766,79.
Dilansir Reuters, Selasa (29/3/2016) tingkat konsumsi AS tercatat tidak mengalami kenaikan signifikan pada bulan Februari dan The Fed (Bank Sentral AS) diusulkan untuk berhati-hati sebelum mengambil keputusan seputar penurunan suku bunga acuan tahun ini. Sementara perdagangan cenderung bergerak mixed dengan volume rendah hari ini ketika pasar Eropa masih libur.
Indeks S&P sebagian besar mulai pulih setelah penurunan 10% di awal 2016 lalu, meski begitu masih banyak investor yang tetap waspada terhadap peluang kenaikan kembali Fed rate, dampak harga minyak dunia yang masih bergerak tidak beraturan dan ekonomi global. "Saya pikir kita tidak cukup kuat. Saya sudah melihat kita kehilangan beberapa momentum dalam satu pekan terakhir," jelas Analis Teknis Wellington perisai & Co, Frank Gretz.
Investor diprediksi akan memberikan perhatian penuh kepada pidato Janet Yellen di New York pada tengah pekan ini untuk melihat pentunjuk tentang kapan The Fed kemungkinan menaikkan suku bunga. "Kami akan mengawasi untuk melihat apakah ada perubahan dalam bahasa atau pandangannya. Tapi saya harap dia tidak melakukan hal apapun yang bisa mengejutkan pasar," jelas Kepala Greentree Brokerage Services, Warren West.
Indeks S & P naik 0,51% dan 0,435%, sedangkan sektor utilitas SPLRCU kehilangan 0,36% dan indeks energi SPNY melemah 0,34%. Harga minyak mentah sendiri lebih rendah berada di bawah USD40 per barel. Tercatat Dow Jones industrial average (DJI) naik 0,11% atau 17.535,39 poin serta indeks S & P 500 menyusut 0,05% ke level 2.037,05. Sementara Komposit Nasdaq turun 0,14% menjadi 4.766,79.
(akr)
Lihat Juga :