Yogyakarta Perpanjang Moratorium Hotel

Jum'at, 08 April 2016 - 00:43 WIB
Yogyakarta Perpanjang...
Yogyakarta Perpanjang Moratorium Hotel
A A A
YOGYAKARTA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali memperpanjang pembatasan pendirian (moratorium) hotel di wilayahnya. Perpanjangan moratorium ini disambut baik berbagai kalangan. Karena mereka menilai menjamurnya bisnis hotel di DIY belum memberi dampak signifikan bagi ekonomi daerah.

Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo juga setuju dengan moratorium. Karena, kata dia, saat ini tingkat okupansi (hunian) hotel sudah turun drastis pada tingkat terendah.

"Rata-rata tingkat okupansi hanya 50% ketika peak season, tetapi saat low season hanya 30%," ujarnya, Kamis (7/4/2016).

Deddy menambahkan, PHRI bersama insan pariwisata lainnya, seperti Asita dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Yogyakarta, juga mendukung kebijakan pemprov mengenai moratorium. Apalagi hitungan mereka pasokan kamar hotel sudah dianggap berlebih. Sedangkan minat hotel di Yogyakarta tidak seimbang dengan jumlah kamar yang ada.

Insan pariwisata meminta moratorium diberlakukan sampai dengan bandara baru di Yogyakarta dioperasikan. Sebab, jika bandara baru belum dioperasikan, tingkat kunjungan wisatawan di DIY masih akan stagnan seperti sekarang.

Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DIY, Gonang Djuliastono mengatakan moratorium yang ia lihat baru terjadi di Kota Yogyakarta saja. Sementara di kabupaten lain, kebijakan tersebut belum dilakukan.

Gonang juga mendukung kebijakan pemerintah memperpanjang moratorium. Apalagi hotel baru yang tumbuh tidak memberi imbal balik kepada pengusaha lokal, pemprov, dan UMKM. Pasalnya, bahan baku pendirian hotel tidak diambil dari pengusaha lokal.

Adapun cinderamata yang ditawarkan di hotel sangat minim. Juga bentuk bangunan hotel baru yang tidak memunculkan ciri khas Yogyakarta. Berbeda denganBali, dimana bangunan hotel selalu memiliki ciri khas Bali.

Selain itu, kata Gonang, pendirian hotel baru tidak sejalan dengan tata ruang kota. Dan hingga kini pembahasan soal tata ruang tersebut belum rampung. Padahal tata ruang sangat penting untuk mengendalikan hotel baru.

Untuk itu, Gonang meminta agar pemprov lebih memerhatikan pengembangan desa-desa wisata, yang membawa dampak luas bagi perekonomian masyarakat.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Liburan dan Belajar...
Liburan dan Belajar Sejarah Soekarno The Phoenix Hotel Yogyakarta
Sambut IKN Nusantara...
Sambut IKN Nusantara Jadi Momentum Pengembangan Kawasan Balikpapan Superblock
PHI Group dengan Perhutani...
PHI Group dengan Perhutani Alam Wisata Teken Kerjasama Pengembangan Wisata
Nemuru Hotel Ciputat,...
Nemuru Hotel Ciputat, Destinasi Penginapan Baru di Selatan Jakarta dengan Nuansa Jepang yang Kental
New Years Eve, Aerotel...
New Years Eve, Aerotel Smile Hotel Usung Street Food Festival
Injak Usia ke-7, Alma...
Injak Usia ke-7, Alma Corp dan The Silk Dago Bandung Jalin Kerja Sama
Berita Terkini
Galon Guna Ulang Berizin...
Galon Guna Ulang Berizin Edar BPOM dan Ber-SNI Dipastikan Aman Dipakai
7 jam yang lalu
Transisi Net Zero Ubah...
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis
8 jam yang lalu
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
9 jam yang lalu
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
10 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Guna Usaha Indonesia Catat Kinerja Unggul Selama 10 Tahun Berturut-turut
10 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Finance Catat Kinerja Terbaik Selama Lima Tahun Berturut-turut
10 jam yang lalu
Infografis
Mahfud MD: Revisi UU...
Mahfud MD: Revisi UU MK Perpanjang Masa Tugas Anwar Usman
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved