Jokowi Sindir Kementan Tak Paham Kebutuhan Petani
Senin, 11 April 2016 - 17:45 WIB
Jokowi Sindir Kementan Tak Paham Kebutuhan Petani
A
A
A
BREBES - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyindir Kementerian Pertanian (Kementan) yang tidak paham mengenai alat produksi yang dibutuhkan petani. Dia meminta Kementan lebih fokus pada apa yang dibutuhkan petani.
Mantan orang nomor satu di DKI Jakarta ini mencontohkan, jika yang dibutuhkan petani adalah bibit, maka Kementan jangan justru menyediakan pupuk. Anggaran yang digelontorkan negara untuk kementerian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman ini harus diprioritaskan untuk membeli kebutuhan petani.
"‎Jangan yang dibutuhkan bibit, yang dibeli pupuk. Yang dibutuhkan traktor, yang dibeli bibit. Jangan dibolak balik. Petani ngerti apa yang dibutuhkan. Sampaikan apa adanya apa yang kurang," katanya dalam acara peluncuran program Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat di Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/4/2016).
Selain itu, mantan wali kota Solo ini juga menyinggung mengenai kualitas bibit tanaman yang berbanding terbalik dengan harga yang harus dibayarkan petani. Selama ini, petani harus membeli bibit dengan harga mahal sementara kualitas yang didapatkan justru buruk.
"Bibit harganya mahal. Tapi di dalamnya ada hama ulat. Saya buka betul, ada hama ulat, ada semuanya. Artinya saya tahu, kalau yang ngomong petani, rakyat pasti betul," tutur dia.
Karena itu, jika Dinas Pertanian daerah setempat tidak mampu menangani hal ini, maka Kementan harus turun tangan agar persoalan ini tidak terjadi lagi. "Saya minta dinas pertanian di daerah selesaikan. Kalau enggak bisa, ngomong ke Kementan. Biar hal seperti ini enggak menjalar kemana-mana," Tandas Jokowi.
Mantan orang nomor satu di DKI Jakarta ini mencontohkan, jika yang dibutuhkan petani adalah bibit, maka Kementan jangan justru menyediakan pupuk. Anggaran yang digelontorkan negara untuk kementerian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman ini harus diprioritaskan untuk membeli kebutuhan petani.
"‎Jangan yang dibutuhkan bibit, yang dibeli pupuk. Yang dibutuhkan traktor, yang dibeli bibit. Jangan dibolak balik. Petani ngerti apa yang dibutuhkan. Sampaikan apa adanya apa yang kurang," katanya dalam acara peluncuran program Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat di Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/4/2016).
Selain itu, mantan wali kota Solo ini juga menyinggung mengenai kualitas bibit tanaman yang berbanding terbalik dengan harga yang harus dibayarkan petani. Selama ini, petani harus membeli bibit dengan harga mahal sementara kualitas yang didapatkan justru buruk.
"Bibit harganya mahal. Tapi di dalamnya ada hama ulat. Saya buka betul, ada hama ulat, ada semuanya. Artinya saya tahu, kalau yang ngomong petani, rakyat pasti betul," tutur dia.
Karena itu, jika Dinas Pertanian daerah setempat tidak mampu menangani hal ini, maka Kementan harus turun tangan agar persoalan ini tidak terjadi lagi. "Saya minta dinas pertanian di daerah selesaikan. Kalau enggak bisa, ngomong ke Kementan. Biar hal seperti ini enggak menjalar kemana-mana," Tandas Jokowi.
(izz)
Lihat Juga :