Ini Temuan Rizal Ramli Saat Sidak di Bandara Soetta
Senin, 25 April 2016 - 12:43 WIB
Ini Temuan Rizal Ramli Saat Sidak di Bandara Soetta
A
A
A
TANGERANG - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli hari ini menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang untuk memantau implementasi kebijakan bebas visa bagi 169 negara di dunia. Dalam sidak tersebut, Rizal menemukan fakta bahwa banyak turis yang belum mengetahui kebijakan bebas visa, dan masih membayar biaya visa on arrival sebesar USD35.
Rizal mengatakan, masih banyak turis yang belum mengetahui bahwa Indonesia telah membebaskan visa kepada 169 negara. Karena itu, pihaknya akan mengirimkan surat kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk melakukan sosialisasi kepada negara tersebut terkait kebijakan bebas visa.
"Masih banyak yang belum tahu Indonesia bebas visa, kita minta deputi kirim surat ke Menlu agar ada sosialsiasi di negara yang kita berikan bebas visa supaya mereka memahami ini," katanya di Terminal 2D Bandara Soetta, Tangerang, Senin (25/4/2016).
Saat sidak, mantan Menko bidang Perekonomian ini bertemu beberapa turis dari berbagai negara dan sejauh ini mereka masih membayar biaya pengeluaran visa on arrival. Bahkan, beberapa turis yang telah mengetahui kebijakan tersebut juga tetap dimintai biaya visa oleh petugas.
"Kami datangi beberapa turis, ada yang belum mengerti (bebas visa) tetap bayar USD30. Yang ngerti (bebas visa) juga ada yang komplain karena tetap ditagih. Jadi perlu sosialisasi betul kita bebas visa," imbuh dia.
Mantan Menteri Keuangan ini menyebutkan, kebijakan bebas visa ini dalam rangka meningkatkan jumlah turis yang melancong ke Indonesia dari tahun lalu sebesar 10,5 juta wisman menjadi 20 juta dalam lima tahun mendatang.
Selain itu, kebijakan ini juga untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata dari sebelumnya USD10 miliar menjadi USD20 miliar dalam lima tahun, serta peningkatan tenaga kerja dari 3 juta menjadi 7 juta tenaga kerja.
"Pemerintah melakukan sejumlah langkah yang diharapkan tingkat jumlah turis, yaitu bebaskan visa ke 169 negara. Kecuali ke negara yang aktif di perdagangan narkoba kita coret, negara yang aktif ekspor ideologi ekstrem termasuk teroris kita coret, negara sumber epidemik penyakit menular kita coret," sebut Rizal.
Menteri yang terkenal dengan jurus Rajawali Kepret ini mengakui kebijakan ini akan mengikis pendapatan negara. Namun di luar itu, pengeluaran turis yang diperkirakan lebih dari USD100 per hari akan menjadi sumber pendapatan baru yang dapat meningkatkan devisa negara.
"Memang dari satu sisi pendapatan negara berkurang USD30, tetapi pengeluaran turis per hari lebih dari USD100, jadi dapat kalau mereka stay beberapa hari, pengusaha dan rakyat biasa bisa rasakan manfaat dari ini," tandasnya.
Rizal mengatakan, masih banyak turis yang belum mengetahui bahwa Indonesia telah membebaskan visa kepada 169 negara. Karena itu, pihaknya akan mengirimkan surat kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk melakukan sosialisasi kepada negara tersebut terkait kebijakan bebas visa.
"Masih banyak yang belum tahu Indonesia bebas visa, kita minta deputi kirim surat ke Menlu agar ada sosialsiasi di negara yang kita berikan bebas visa supaya mereka memahami ini," katanya di Terminal 2D Bandara Soetta, Tangerang, Senin (25/4/2016).
Saat sidak, mantan Menko bidang Perekonomian ini bertemu beberapa turis dari berbagai negara dan sejauh ini mereka masih membayar biaya pengeluaran visa on arrival. Bahkan, beberapa turis yang telah mengetahui kebijakan tersebut juga tetap dimintai biaya visa oleh petugas.
"Kami datangi beberapa turis, ada yang belum mengerti (bebas visa) tetap bayar USD30. Yang ngerti (bebas visa) juga ada yang komplain karena tetap ditagih. Jadi perlu sosialisasi betul kita bebas visa," imbuh dia.
Mantan Menteri Keuangan ini menyebutkan, kebijakan bebas visa ini dalam rangka meningkatkan jumlah turis yang melancong ke Indonesia dari tahun lalu sebesar 10,5 juta wisman menjadi 20 juta dalam lima tahun mendatang.
Selain itu, kebijakan ini juga untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata dari sebelumnya USD10 miliar menjadi USD20 miliar dalam lima tahun, serta peningkatan tenaga kerja dari 3 juta menjadi 7 juta tenaga kerja.
"Pemerintah melakukan sejumlah langkah yang diharapkan tingkat jumlah turis, yaitu bebaskan visa ke 169 negara. Kecuali ke negara yang aktif di perdagangan narkoba kita coret, negara yang aktif ekspor ideologi ekstrem termasuk teroris kita coret, negara sumber epidemik penyakit menular kita coret," sebut Rizal.
Menteri yang terkenal dengan jurus Rajawali Kepret ini mengakui kebijakan ini akan mengikis pendapatan negara. Namun di luar itu, pengeluaran turis yang diperkirakan lebih dari USD100 per hari akan menjadi sumber pendapatan baru yang dapat meningkatkan devisa negara.
"Memang dari satu sisi pendapatan negara berkurang USD30, tetapi pengeluaran turis per hari lebih dari USD100, jadi dapat kalau mereka stay beberapa hari, pengusaha dan rakyat biasa bisa rasakan manfaat dari ini," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :