Keuangan Sehat, Pertamina Didorong Menjadi Pemain Migas Dunia
Selasa, 03 Mei 2016 - 16:12 WIB
Keuangan Sehat, Pertamina Didorong Menjadi Pemain Migas Dunia
A
A
A
JAKARTA - Kondisi keuangan PT Pertamina (Persero) yang semakin prima, membuat perusahaan pelat merah ini berpotensi menjadi pemain minyak dan gas di kancah dunia. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean. Menurut dia, Pertamina saat ini perusahaan yang sangat sehat.
“Dari sisi manajemen dan SDM sangat mampu, tidak ada lagi BUMN lain yang lebih andal di sektor ini. Jadi mereka punya potensi untuk itu (pemain migas dunia),” terang Ferdinand dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Kondisi Pertamina yang sehat, menurut Ferdinand, tidak lepas dari efisiensi yang dilakukan BUMN yang 100% sahamnya dimiliki negara tersebut. Bahkan dari efisiensi tersebut, tahun lalu Pertamina bisa menghemat pengeluaran hingga Rp1,3 triliun.
“Tahun ini, bahkan efisiensi diperkiran terus meningkat. Karena Pertamina melakukan berbagai penghematan, baik di hulu maupun hilir. Kita harus memberi apresiasi kepada mereka,” lanjut Ferdinand.
Menariknya, efisiensi tersebut juga dibarengi dengan inovasi market yang luar biasa. Di antaranya peluncuran Pertalite yang saat ini penjualannya semakin meningkat sehingga berhasil menurunkan konsumsi Premium.
Berkat inovasi di pemasaran pula, Dexlite yang baru diluncurkan langsung mendapat respons pasar yang luar biasa. Termasuk pertamax yang konsumsinya terus meningkat. “Berbagai inovasi tersebut, membuat Pertamina sangat sehat karena bisa memperkecil tekanan yang sedang dihadapi di sektor hulu,” pungkasnya.
Bekas anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Profesor Mukhtasor berpendapat serupa. Menurut dia, banyak indikator yang memperlihatkan BUMN migas ini semakin membaik. “Performa keuangan sangat sehat, utang jangka panjang semakin menurun, dan efisiensi meningkat,” kata Mukhtasor.
Sehatnya kondisi keuangan tidak lepas dari insiatif Pertamina melakukan berbagai penataan. Terkait utang-utang, misalnya, Pertamina melakukan re-financing yang tepat sehingga interest semakin rendah dan lebih efisien dalam menekan biaya produksi. Termasuk di antaranya, ketika Pertamina membubarkan Petral. “Hal itu menunjukkan bahwa penataan keuangan dan manajemen mereka memang semakin bagus,” lanjut dia.
Tak kalah penting, imbuh Mukhtasor, Pertamina melakukan strategi yang sangat tepat ketika harga minyak dunia sedang turun. Ketika itu, di saat banyak perusahaan minyak dunia mendapat tekanan di sisi hulu, Pertamina justru menyeimbangkan antara hulu dan hilir. Dalam hal ini, efisiensi banyak dilakukan di hulu, sedangkan di hilir banyak melakukan inovasi market. Antara lain dengan mengeluarkan berbagai produk seperti Pertalite dan Dexlite. Strategi menyeimbangkan hulu dan hilir ini turut berkkontribusi dalam memperkokoh bisnis Pertamina.
Tidak hanya memperkuat portofolio di hilir, Pertamina juga sangat tepat memanfaatkan momentum penurunan harga minyak dunia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. Dengan ekspansi di sisi hulu tersebut, Pertamina juga melakukan efisiensi yang sangat signifikan diantaranya melakukan penekanan biaya investasi.
Itulah sebabnya, ketika banyak perusahaan migas terkena imbas jatuhnya harga minyak dunia, Pertamina justru tidak goyah. Faktanya, lanjut Mukhtasor, pada saat banyak perusahaan migas melakukan kebijakan PHK, seperti Chevron, Vico, British Petroleum, dan Halliburton, Pertamina justru melakukan rekrutmen secara besar-besaran. “Ini menandakan strategi Pertamina untuk tumbuh dilakukan dengan cara yang tepat,” kata Mukhtasor.
“Dari sisi manajemen dan SDM sangat mampu, tidak ada lagi BUMN lain yang lebih andal di sektor ini. Jadi mereka punya potensi untuk itu (pemain migas dunia),” terang Ferdinand dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/5/2016).
Kondisi Pertamina yang sehat, menurut Ferdinand, tidak lepas dari efisiensi yang dilakukan BUMN yang 100% sahamnya dimiliki negara tersebut. Bahkan dari efisiensi tersebut, tahun lalu Pertamina bisa menghemat pengeluaran hingga Rp1,3 triliun.
“Tahun ini, bahkan efisiensi diperkiran terus meningkat. Karena Pertamina melakukan berbagai penghematan, baik di hulu maupun hilir. Kita harus memberi apresiasi kepada mereka,” lanjut Ferdinand.
Menariknya, efisiensi tersebut juga dibarengi dengan inovasi market yang luar biasa. Di antaranya peluncuran Pertalite yang saat ini penjualannya semakin meningkat sehingga berhasil menurunkan konsumsi Premium.
Berkat inovasi di pemasaran pula, Dexlite yang baru diluncurkan langsung mendapat respons pasar yang luar biasa. Termasuk pertamax yang konsumsinya terus meningkat. “Berbagai inovasi tersebut, membuat Pertamina sangat sehat karena bisa memperkecil tekanan yang sedang dihadapi di sektor hulu,” pungkasnya.
Bekas anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Profesor Mukhtasor berpendapat serupa. Menurut dia, banyak indikator yang memperlihatkan BUMN migas ini semakin membaik. “Performa keuangan sangat sehat, utang jangka panjang semakin menurun, dan efisiensi meningkat,” kata Mukhtasor.
Sehatnya kondisi keuangan tidak lepas dari insiatif Pertamina melakukan berbagai penataan. Terkait utang-utang, misalnya, Pertamina melakukan re-financing yang tepat sehingga interest semakin rendah dan lebih efisien dalam menekan biaya produksi. Termasuk di antaranya, ketika Pertamina membubarkan Petral. “Hal itu menunjukkan bahwa penataan keuangan dan manajemen mereka memang semakin bagus,” lanjut dia.
Tak kalah penting, imbuh Mukhtasor, Pertamina melakukan strategi yang sangat tepat ketika harga minyak dunia sedang turun. Ketika itu, di saat banyak perusahaan minyak dunia mendapat tekanan di sisi hulu, Pertamina justru menyeimbangkan antara hulu dan hilir. Dalam hal ini, efisiensi banyak dilakukan di hulu, sedangkan di hilir banyak melakukan inovasi market. Antara lain dengan mengeluarkan berbagai produk seperti Pertalite dan Dexlite. Strategi menyeimbangkan hulu dan hilir ini turut berkkontribusi dalam memperkokoh bisnis Pertamina.
Tidak hanya memperkuat portofolio di hilir, Pertamina juga sangat tepat memanfaatkan momentum penurunan harga minyak dunia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. Dengan ekspansi di sisi hulu tersebut, Pertamina juga melakukan efisiensi yang sangat signifikan diantaranya melakukan penekanan biaya investasi.
Itulah sebabnya, ketika banyak perusahaan migas terkena imbas jatuhnya harga minyak dunia, Pertamina justru tidak goyah. Faktanya, lanjut Mukhtasor, pada saat banyak perusahaan migas melakukan kebijakan PHK, seperti Chevron, Vico, British Petroleum, dan Halliburton, Pertamina justru melakukan rekrutmen secara besar-besaran. “Ini menandakan strategi Pertamina untuk tumbuh dilakukan dengan cara yang tepat,” kata Mukhtasor.
(ven)
Lihat Juga :