PHK Hantui Industri Mamin jika Plastik Kemasan Dikenai Cukai

Rabu, 11 Mei 2016 - 14:56 WIB
PHK Hantui Industri...
PHK Hantui Industri Mamin jika Plastik Kemasan Dikenai Cukai
A A A
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) ‎mengaku keberatan dengan rencana pemerintah memungut cukai terhadap plastik untuk kemasan. Bahkan, mereka mengancam akan melakukan pemangkasan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) jika memang kebijakan tersebut resmi disahkan.

(Baca: Pengenaan Cukai Plastik Bakal Buat Produk Ilegal Marak)

Sekretaris Jenderal Gapmmi Titiek Sadarini mengatakan, bagi pengusaha pada dasarnya keuntungan menjadi hal utama. Jika memang nantinya cukai plastik kemasan tetap digulirkan, maka pengusaha makanan dan minuman (mamin) akan membebankannya kepada konsumen dengan menaikkan harga produk yang dijual.

"‎Kalau konsumen enggak bisa, akhirnya produksi turun dan akan lakukan efisiensi. Kalau tenaga kerja ini nanti misalnya dikenakan terus kita PHK, siapa yang akan nanggung?" katanya di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (11/5/2016).

Titiek menegaskan, pemerintah jangan membuat kebijakan yang kontraproduktif dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi di Tanah Air. ‎Apalagi, saat ini Indonesia sudah memasuki era persaingan bebas dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"‎Kalau kebijakan dipaksakan tanpa perhitungan matang, apa kita enggak bunuh diri dengan market yang sudah sangat terbuka ini. Industri intinya terbuka untuk dialog, tapi berdasarkan fakta dan tidak berdasarkan asumsi. Sehingga tidak membebani," imbuh dia.

Juru Bicara Forum Lintas Asosiasi Industri Produsen dan Pengguna Plastik (FLAIPP) Rachmat Hidayat ‎menambahkan, pengenaan cukai ini justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terlebih, kontribusi industri mamin cukup besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Sementara, setiap 1% pertumbuhan ekonomi sedianya mampu menyerap tenaga kerja 170 ribu orang. Artinya, jika terjadi perlambatan ekonomi 1% saja, maka akan ada 170 ribu tenaga kerja yang terancam di PHK.

"Lihat aja cukai ini akan jadikan perlambatan berapa? Apa 0,5% atau 1%. Jadi, itu hitungan matematikanya. Industri makanan dan minuman itu punya multiplier empat kali lipat untuk tenaga kerja. Jadi, satu pabrik tutup akan kehilangan empat kali lipat naker juga. Itu yang jangan sampai terjadi," pungka Rachmat.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Cukai Minuman Berpemanis...
Cukai Minuman Berpemanis dan Plastik Jadi Kado Pahit Akhir Tahun Bagi Pelaku Industri
Pandemi Tak Halangi...
Pandemi Tak Halangi Bea Cukai Rintis Kawasan Industri Tembakau
Pertama di Indonesia,...
Pertama di Indonesia, Perusda Soppeng Kantongi Izin Kawasan Industri Hasil Tembakau
Cukai Naik, Kemenkeu...
Cukai Naik, Kemenkeu Prediksi Produksi Rokok Turun 3,3 Persen
Menimbang Roadmap Kebijakan...
Menimbang Roadmap Kebijakan Industri Hasil Tembakau
Operasi Gempur Rokok...
Operasi Gempur Rokok Ilegal Bakal Sehatkan Industri Hasil Tembakau
Berita Terkini
Bahlil Beberkan soal...
Bahlil Beberkan soal Rencana Pembentukan Bursa Mineral Indonesia
16 menit yang lalu
Pakar Ingatkan Galon...
Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
30 menit yang lalu
IHSG Terjun Bebas 4,52%...
IHSG Terjun Bebas 4,52% Sore Ini, Banyak Saham 'Berdarah-darah'
1 jam yang lalu
Satu Seperempat Abad...
Satu Seperempat Abad Menjaga Kepercayaan, Pegadaian Konsisten Hadirkan Layanan Terdepan untuk Negeri
1 jam yang lalu
MNC Sekuritas Bekali...
MNC Sekuritas Bekali Mahasiswa UPJ Edukasi Pasar Modal dalam Acara Jaya Investment Week 2026
1 jam yang lalu
Alam Bumi Sumberdaya...
Alam Bumi Sumberdaya Ekspansi Bisnis ke Singapura
1 jam yang lalu
Infografis
China Dilanda Gelombang...
China Dilanda Gelombang PHK dan Gejolak Sosial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved