Margaria Group Gandeng UMKM Tingkatkan Busana Tradisional
Sabtu, 28 Mei 2016 - 06:51 WIB
Margaria Group Gandeng UMKM Tingkatkan Busana Tradisional
A
A
A
YOGYAKARTA - Budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Dan sejak UNESCO menyatakan batik merupakan warisan dunia asli Indonesia, tren menggunakan batik semakin tinggi di segala lapisan masyarakat. Ini pula yang membuat Margaria Group ingin meningkatkan busana tradisional.
Untuk itu, Margaria Group menggandeng jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menghasilkan karya batik dan kebaya berkualitas.
Owner Margaria, Dyah Suminar mengungkapkan, UMKM di Yogyakarta dan sekitar memang masih perlu banyak didorong agar lebih maju lagi. Karena berbagai kelemahan masih menghambat perkembangan UMKM selama ini. Kurangnya UMKM mengikuti perkembangan zaman sehingga mereka hanya mengandalkan dengan meneruskan tradisi yang selama ini sudah berlangsung turun-temurun.
"Mereka kurang melihat keluar. Hanya terkungkung dengan rutinitas," tuturnya, Jum'at (27/5/2016) saat meluncurkan kebaya terbaru mereka di Margaria Kotagede.
Menurutnya, menjadi kewajiban dari pengusaha yang lebih besar untuk mendampingi UMKM ini lebih berkembang. Pengusaha yang lebih besar membimbing UMKM supaya bisa berkembang terlebih untuk membuka wacana tentang hal yang kini menjadi tren saat ini. Pengusaha besar harus bisa menjadi mitra UMKM dalam memasarkan produk yang mereka hasilkan selama ini.
Margaria sendiri, lanjutnya, saat ini sudah bermitra dengan 200 UMKM lebih untuk menjadi pemasok batik serta kebaya yang mereka jual di gerai Margaria Group. Dari enam outlet Margaria, empat di antaranya di Yogyakarta, satu di Semarang dan sisanya di kota lain, kini mengupayakan mengangkat produk-produk hasil karya UMKM di sekitar outlet. UMKM-UMKM tersebut mereka bimbing hingga bisa memenuhi standar yang diinginkan Margaria Group.
Bahkan, untuk standarisasi tersebut, Margaria Group menerjunkan tim khusus mendampingi UMKM-UMKM tersebut. Pendamping dari Margaria terjun langsung ke dalam proses produksi, memperkenalkan dan membimbing UMKM agar menghasilkan produk sesuai dengan keinginan pasar. Pendamping ini kini justru menjadi ujung tombak Margaria Group menghasilkan produk berkualitas.
"Mereka sering ke rumah tempat usaha UMKM patner kami, bahkan sudah dianggap sedulur (saudara)," ungkapnya.
Tahun ini, pihaknya tengah berkonsentrasi melakukan pengembangan kebaya-kebaya klasik dengan bahan batik jumputan ataupun klasik. Batik jumputan sebenarnya berasal dari kata jumput atau ambil yang berarti diambil dari produk yang dihasilkan oleh beberapa UMKM. Sementara batik klasik kembali mengangkat tema yang didominasi oleh keceriaan bunga yang mempercantik kebaya.
Bussines Director Margaria Group, Arief Nur Wibawanto menambahkan, sejak dinobatkan sebagai warisan dunia asli Indonesia, masyarakat Indonesia tidak canggung lagi mengenakan batik. Bahkan kini muncul tren baru yang menggunakan batik sebagai seragam kerja. Hal tersebut menjadi peluang bagi pengusaha batik, terutama batik tradisional untuk memperkenalkan produk mereka.
"Margaria Group kini memang tengah gencar memperkenalkan batik dan kebaya di masyarakat. Tahun ini masih berbahan kain, tahun depan bisa jadi berbahan tenun," paparnya.
Untuk itu, Margaria Group menggandeng jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menghasilkan karya batik dan kebaya berkualitas.
Owner Margaria, Dyah Suminar mengungkapkan, UMKM di Yogyakarta dan sekitar memang masih perlu banyak didorong agar lebih maju lagi. Karena berbagai kelemahan masih menghambat perkembangan UMKM selama ini. Kurangnya UMKM mengikuti perkembangan zaman sehingga mereka hanya mengandalkan dengan meneruskan tradisi yang selama ini sudah berlangsung turun-temurun.
"Mereka kurang melihat keluar. Hanya terkungkung dengan rutinitas," tuturnya, Jum'at (27/5/2016) saat meluncurkan kebaya terbaru mereka di Margaria Kotagede.
Menurutnya, menjadi kewajiban dari pengusaha yang lebih besar untuk mendampingi UMKM ini lebih berkembang. Pengusaha yang lebih besar membimbing UMKM supaya bisa berkembang terlebih untuk membuka wacana tentang hal yang kini menjadi tren saat ini. Pengusaha besar harus bisa menjadi mitra UMKM dalam memasarkan produk yang mereka hasilkan selama ini.
Margaria sendiri, lanjutnya, saat ini sudah bermitra dengan 200 UMKM lebih untuk menjadi pemasok batik serta kebaya yang mereka jual di gerai Margaria Group. Dari enam outlet Margaria, empat di antaranya di Yogyakarta, satu di Semarang dan sisanya di kota lain, kini mengupayakan mengangkat produk-produk hasil karya UMKM di sekitar outlet. UMKM-UMKM tersebut mereka bimbing hingga bisa memenuhi standar yang diinginkan Margaria Group.
Bahkan, untuk standarisasi tersebut, Margaria Group menerjunkan tim khusus mendampingi UMKM-UMKM tersebut. Pendamping dari Margaria terjun langsung ke dalam proses produksi, memperkenalkan dan membimbing UMKM agar menghasilkan produk sesuai dengan keinginan pasar. Pendamping ini kini justru menjadi ujung tombak Margaria Group menghasilkan produk berkualitas.
"Mereka sering ke rumah tempat usaha UMKM patner kami, bahkan sudah dianggap sedulur (saudara)," ungkapnya.
Tahun ini, pihaknya tengah berkonsentrasi melakukan pengembangan kebaya-kebaya klasik dengan bahan batik jumputan ataupun klasik. Batik jumputan sebenarnya berasal dari kata jumput atau ambil yang berarti diambil dari produk yang dihasilkan oleh beberapa UMKM. Sementara batik klasik kembali mengangkat tema yang didominasi oleh keceriaan bunga yang mempercantik kebaya.
Bussines Director Margaria Group, Arief Nur Wibawanto menambahkan, sejak dinobatkan sebagai warisan dunia asli Indonesia, masyarakat Indonesia tidak canggung lagi mengenakan batik. Bahkan kini muncul tren baru yang menggunakan batik sebagai seragam kerja. Hal tersebut menjadi peluang bagi pengusaha batik, terutama batik tradisional untuk memperkenalkan produk mereka.
"Margaria Group kini memang tengah gencar memperkenalkan batik dan kebaya di masyarakat. Tahun ini masih berbahan kain, tahun depan bisa jadi berbahan tenun," paparnya.
(ven)
Lihat Juga :