Penerapan Tax Amnesty Bisa Jadi Penentu Arah Bursa Saham
Sabtu, 28 Mei 2016 - 16:56 WIB
Penerapan Tax Amnesty Bisa Jadi Penentu Arah Bursa Saham
A
A
A
TANGERANG - Pergerakan bursa saham Tanah Air diperkirakan oleh Analis Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy akan ditentukan antara periode Juni sampai Agustus 2016, apakah akan menuju arah yang lebih baik atau sebaliknya. Menurutnya hal ini merupakan dampak dari risiko fiskal yang sudah mulai bergeser dari sebelumnya subsidi energi menjadi ke tax revenue
"Juni-Agustus 2016 bakal menjadi menjadi masa penentuan untuk pasar modal karena mulai bergesernya subsidi energi menjadi tax revenue," ujar dia di Tangerang, Jawa Barat, Sabtu (28/5/2016).
Dia menilai langkah-langkah pemerintah dalam meningkatkan penerimaan negara akan menjadi perhatian penting bagi market untuk melihat sejauh mana kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan adalah dengan kebijakan pengampunan pajak atau Tax Amnesty yang diharapkan rampung tahun ini.
Diharapkan lewat penerapan Tax Amnesty, akan banyak pendapatan negara yang masuk dari pengenaan pajak tersebut. Dana-dana tersebut nantinya akan disimpan dalam berbagai instrumen investasi, salah satunya di reksa dana, tidak hanya perbankan.
"Karena apabila fundamental ekonominya tidak menentu akan berpengaruh pada belanja infrastruktur, pembangunan pemerintah maupun pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Sementara itu dia menilai target pertumbuhan pajak yang diusung pemerintah sebesar 25% tahun ini menurutnya akan sulit tercapai. Leo menjelaskan yang diharapkan market tidak perlu menargetkan sesuatu yang tinggi-tinggi, mereka hanya ingin melihat targetnya lebih realistis.
"Pemerintah masih punya kesempatan merevisi target penerimaan dan anggaran pemerintah. Bisa dilakukan pada revisi APBN pertengahan tahun ini," katanya.
Dari sisi moneter, risiko yang menjadi perhatian pasar modal adalah terkait dengan stabilitas nilai tukar rupiah dan capital outflow. Foreign ownership Indonesia di bond lebih tinggi dari negara lain dan pasar pasar modal kepemilikan asing hampir 60%. "Ini harus menjadi perhatian penting bagi Bank Indonesia selain Fed Fund Rate. Investor akan menunggu apakah BI bisa memanage nilai tukar rupiah," pungkasnya.
"Juni-Agustus 2016 bakal menjadi menjadi masa penentuan untuk pasar modal karena mulai bergesernya subsidi energi menjadi tax revenue," ujar dia di Tangerang, Jawa Barat, Sabtu (28/5/2016).
Dia menilai langkah-langkah pemerintah dalam meningkatkan penerimaan negara akan menjadi perhatian penting bagi market untuk melihat sejauh mana kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan penerimaan adalah dengan kebijakan pengampunan pajak atau Tax Amnesty yang diharapkan rampung tahun ini.
Diharapkan lewat penerapan Tax Amnesty, akan banyak pendapatan negara yang masuk dari pengenaan pajak tersebut. Dana-dana tersebut nantinya akan disimpan dalam berbagai instrumen investasi, salah satunya di reksa dana, tidak hanya perbankan.
"Karena apabila fundamental ekonominya tidak menentu akan berpengaruh pada belanja infrastruktur, pembangunan pemerintah maupun pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Sementara itu dia menilai target pertumbuhan pajak yang diusung pemerintah sebesar 25% tahun ini menurutnya akan sulit tercapai. Leo menjelaskan yang diharapkan market tidak perlu menargetkan sesuatu yang tinggi-tinggi, mereka hanya ingin melihat targetnya lebih realistis.
"Pemerintah masih punya kesempatan merevisi target penerimaan dan anggaran pemerintah. Bisa dilakukan pada revisi APBN pertengahan tahun ini," katanya.
Dari sisi moneter, risiko yang menjadi perhatian pasar modal adalah terkait dengan stabilitas nilai tukar rupiah dan capital outflow. Foreign ownership Indonesia di bond lebih tinggi dari negara lain dan pasar pasar modal kepemilikan asing hampir 60%. "Ini harus menjadi perhatian penting bagi Bank Indonesia selain Fed Fund Rate. Investor akan menunggu apakah BI bisa memanage nilai tukar rupiah," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :