Pedagang Sebut Langkah Pemerintah Stabilkan Harga Pangan Hanya Wacana
Jum'at, 10 Juni 2016 - 21:57 WIB
Pedagang Sebut Langkah Pemerintah Stabilkan Harga Pangan Hanya Wacana
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menilai, langkah pemerintah untuk menstabilkan harga pangan dan bahan kebutuhan pokok lainnya hanyalah wacana. Pasalnya, saat pedagang telah sepakat membantu pemerintah menjual sembako dengan harga miring, barang yang mereka akan jual justru belum tersedia.
Wakil Ketua Umum APPSI, Ngadiran mengatakan, beberapa waktu lalu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berinisiatif untuk memutus mata rantai penjualan beras dengan memberikan subsidi pembelian alat dan mesin pertanian (alsintan). Dengan subsidi tersebut, diharapkan harga beras di tingkat pedagang bisa lebih murah.
"Bahasanya diberikan subsidi, padahal kan alatnya diberi keringanan agar berasnya bisa dihimpun kemudian dijual kepada kita. Jangan sampai melalui jalan panjang. Jalan panjang itu kan ujungnya biaya," katanya di Gedung Kementan, Jakarta, Jumat (10/6/2016).
Tak hanya itu, Ngadiran juga mengkritisi langkah pemerintah yang menginstruksikan agar pedagang menjual harga ayam Rp30.000 per kilogram (kg). Namun, saat operasi pasar justru harga ayam dijual seharga Rp29.000 per kg sehingga membuat ayam yang dijual pedagang tidak laku.
(Baca: Empat Menteri Gelar Rakor Stabilkan Harga Pangan)
"Kami waktu diundang ke sini dikasih harga ayam Rp30 ribu. Oke kirim, suruh jual Rp32 ribu. Tiba-tiba besok pagi orang OP Rp29 ribu, lho kami mau dikirim Rp30 ribu, orang OP Rp29 ribu berarti selisih harga dong. Saya disuruh jadi penonton. Kalau barangnya busuk siapa yang nanggung," imbuh dia.
Menurutnya, hingga saat ini pedagang belum mendapatkan solusi apapun terkait melambungnya harga pangan. Padahal, pihaknya telah enam kali diundang rapat oleh pemerintah.
"Enam kali rapat ini, ya capek. Kawan-kawan saya rapat kan meninggalkan dagangan, pelanggan nyariin. Suruh ke sini kan juga pakai ongkos, capek, jauh," tandasnya.
Wakil Ketua Umum APPSI, Ngadiran mengatakan, beberapa waktu lalu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berinisiatif untuk memutus mata rantai penjualan beras dengan memberikan subsidi pembelian alat dan mesin pertanian (alsintan). Dengan subsidi tersebut, diharapkan harga beras di tingkat pedagang bisa lebih murah.
"Bahasanya diberikan subsidi, padahal kan alatnya diberi keringanan agar berasnya bisa dihimpun kemudian dijual kepada kita. Jangan sampai melalui jalan panjang. Jalan panjang itu kan ujungnya biaya," katanya di Gedung Kementan, Jakarta, Jumat (10/6/2016).
Tak hanya itu, Ngadiran juga mengkritisi langkah pemerintah yang menginstruksikan agar pedagang menjual harga ayam Rp30.000 per kilogram (kg). Namun, saat operasi pasar justru harga ayam dijual seharga Rp29.000 per kg sehingga membuat ayam yang dijual pedagang tidak laku.
(Baca: Empat Menteri Gelar Rakor Stabilkan Harga Pangan)
"Kami waktu diundang ke sini dikasih harga ayam Rp30 ribu. Oke kirim, suruh jual Rp32 ribu. Tiba-tiba besok pagi orang OP Rp29 ribu, lho kami mau dikirim Rp30 ribu, orang OP Rp29 ribu berarti selisih harga dong. Saya disuruh jadi penonton. Kalau barangnya busuk siapa yang nanggung," imbuh dia.
Menurutnya, hingga saat ini pedagang belum mendapatkan solusi apapun terkait melambungnya harga pangan. Padahal, pihaknya telah enam kali diundang rapat oleh pemerintah.
"Enam kali rapat ini, ya capek. Kawan-kawan saya rapat kan meninggalkan dagangan, pelanggan nyariin. Suruh ke sini kan juga pakai ongkos, capek, jauh," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :