Pengesahan APBNP dan Tax Amnesty Menyisakan Catatan

Selasa, 28 Juni 2016 - 19:57 WIB
Pengesahan APBNP dan...
Pengesahan APBNP dan Tax Amnesty Menyisakan Catatan
A A A
JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 serta kebijakan Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty baru saja disahkan oleh DPR dalam rapat paripurna hari ini. Meski begitu fraksi Partai Gerindra memberikan tujuh catatan kepada pemerintah terkait APBNP dan Tax Amnesty.

Pertama pemerintah diminta bekerja keras, sehingga program Tax Amnesty yang diperkirakan oleh pemerintah akan menghasilkan tambahan penerimaan negara sebesar Rp165 triliun terbukti.

"Walaupun dalam hal ini Partai Gerindra memperkirakan keberhasilan program Tax Amnesty hanya sebesar Rp30 triliun," ujar Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR Ahmad Muzani‎ di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/6/2016).

(Baca Juga: APBNP 2016 Disahkan, Ini Asumsi Makro Ekonomi)

Selanjutnya terkait dengan pengesahan kebijakan pengampunan pajak menjadi Undang-undang (UU), pemerintah diminta juga melakukan reformasi pajak, sehingga dalam tiga tahun mendatang pada tahun 2019 Tax Ratio Indonesia dapat mencapai minimal 16% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini rasio penerimaan pajak (tax ratio) tahun 2016 turun, dari rencana awal 13,11% menjadi 12,86% terhadap PDB.

Ketiga, Partai Gerindra meminta agar disahkannya RUU Tax Amnesty menjadi UU merupakan yang terakhir bagi bangsa Indonesia, sehingga dikemudian hari tidak akan ada lagi program Tax Amnesty.

"Keempat, Partai Gerindra meminta pemerintah untuk bekerja extra keras untuk melakukan repatriasi modal yang‎ diperkirakan sekitar Rp11.000 triliun berada di luar negeri," tutur anggota komisi I DPR ini.

Catatan kelima yang diberikan Partai Gerindra, dijelaskan yakni meminta pemerintah untuk bekerja extra keras dalam menambah jumlah wajib pajak dan meningkatkan jumlah wajib pajak yang melaporkan SPT bulanan ataupun setiap tahunnya.

Keenam, Partai Gerindra meminta pemerintah di kemudian hari untuk berhati-hati di dalam program penyertaan modal negara (PMN) agar tepat sasaran dan betul-betul digunakan sebagai beanja modal oleh BUMN.

"Ketujuh, Partai Gerindra kebijakan PMN tidak dijadikan modal atau ekuitas dari perusahaan BUMN dalam konsorsium PT.Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang kita ketahui bersama memiliki saham sebesar‎ 60% dalam PT.Kereta Cepat Indonesia China sesuai janji pemerintah bahwa PT.KCIC adalah kerjasama B to B dan tidak menggunakan anggaran APBN," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
APBN per November 2024...
APBN per November 2024 Tekor Rp401,8 triliun
APBN Februari 2025 Defisit...
APBN Februari 2025 Defisit 0,13 Persen atau Rp31,2 Triliun
Simak! Kinerja APBN...
Simak! Kinerja APBN Mei 2022
Kinerja APBN 2021 Dinilai...
Kinerja APBN 2021 Dinilai Cukup Positif, Ini Penjelasannya
APBN Defisit Rp104,2...
APBN Defisit Rp104,2 Triliun per Maret 2025
APBN Kuartal I 2025...
APBN Kuartal I 2025 Tetap Terjaga
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
8 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
9 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
9 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
9 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
9 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
9 jam yang lalu
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved