Dana Tax Amnesty Dongkrak Pasar Konstruksi Rp2.000 Triliun
Rabu, 20 Juli 2016 - 18:15 WIB
Dana Tax Amnesty Dongkrak Pasar Konstruksi Rp2.000 Triliun
A
A
A
JAKARTA - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyambut baik pemberlakuan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Pasalnya program ini dinilai akan menguntungkan berbagai sektor perekonomian, termasuk konstruksi.
Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Gapensi H.Andi Rukman Karumpa memperkirakan market size konstruksi di Indonesia akan melonjak dua kali lipat dari saat ini sebesar Rp 1000 triliun. “Jadi tahun depan bisa sampai Rp2.000 triliun bila tax amnesty ini sukses,” ujar Andi di Jakarta, Rabu (20/7/2016).
Menurutnya pasar konstruksi Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di ASEAN dengan kontribusinya sekitar 60-70%. Sedangkan di tingkat Asia, Indonesia berada di posisi ke-4 setelah China, Jepang, serta India.
Tahun ini Gapensi memperkirakan kontribusi konstruksi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2016 pada kisaran 15 sampai 16%. Dengan catatan, tahun ini terjadi peningkatan investasi swasta secara signifikan dan belanja pemerintah berjalan lancar.
“Gapensi menyambut baik implementasi kebijakan ini. Sektor konstruksi paling diuntungkan oleh program ini,” lanjutnya.
Dia menambahkan hal ini disebabkan, dua sektor pendukung konstruksi lainnya seperti properti dan infrastruktur akan meraih manfaat langsung dari menguatnya likuiditas di sektor keuangan. Banjir likuiditas di sektor keuangan dan pasar modal ini, lanjut dia membutuhkan instrumen investasi di sektor riil.
Sektor yang paling siap menampung likuiditas tersebut yakni infrastruktur dan properti. Andi menerangkan sentimen positif dari pemberlakuan tax amnesty telah terlihat dari menguatnya saham-saham emiten, selama tiga hari berturut-turut, sejak Selasa (28/6) hingga Kamis (30/6), Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 3,69%.
Sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd), IHSG sudah menguat 8,24%. Investor asing terus merangsek masuk Bursa Efek Indonesia. Andi mengatakan, bila berhasil, tax amnesty juga nantinya akan mendorong peningkatan pajak.
Peningkatan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan fiskal dimana defisit fiskal mencapai Rp313,4 triliun atau 2,4% dari Produk Domestik Bruto. Pemerintah memperkirakan potensi pajak dari program Tax Amnesty itu sebesar Rp165 triliun.
“Dari sisi fiskal akan positif. Kita akan punya dana yang cukup untuk pembangunan infrastruktur dari sisi anggaran negara. Konstruksi dan material akan diuntungkan,” ucap Andi.
Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Gapensi H.Andi Rukman Karumpa memperkirakan market size konstruksi di Indonesia akan melonjak dua kali lipat dari saat ini sebesar Rp 1000 triliun. “Jadi tahun depan bisa sampai Rp2.000 triliun bila tax amnesty ini sukses,” ujar Andi di Jakarta, Rabu (20/7/2016).
Menurutnya pasar konstruksi Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di ASEAN dengan kontribusinya sekitar 60-70%. Sedangkan di tingkat Asia, Indonesia berada di posisi ke-4 setelah China, Jepang, serta India.
Tahun ini Gapensi memperkirakan kontribusi konstruksi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2016 pada kisaran 15 sampai 16%. Dengan catatan, tahun ini terjadi peningkatan investasi swasta secara signifikan dan belanja pemerintah berjalan lancar.
“Gapensi menyambut baik implementasi kebijakan ini. Sektor konstruksi paling diuntungkan oleh program ini,” lanjutnya.
Dia menambahkan hal ini disebabkan, dua sektor pendukung konstruksi lainnya seperti properti dan infrastruktur akan meraih manfaat langsung dari menguatnya likuiditas di sektor keuangan. Banjir likuiditas di sektor keuangan dan pasar modal ini, lanjut dia membutuhkan instrumen investasi di sektor riil.
Sektor yang paling siap menampung likuiditas tersebut yakni infrastruktur dan properti. Andi menerangkan sentimen positif dari pemberlakuan tax amnesty telah terlihat dari menguatnya saham-saham emiten, selama tiga hari berturut-turut, sejak Selasa (28/6) hingga Kamis (30/6), Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 3,69%.
Sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd), IHSG sudah menguat 8,24%. Investor asing terus merangsek masuk Bursa Efek Indonesia. Andi mengatakan, bila berhasil, tax amnesty juga nantinya akan mendorong peningkatan pajak.
Peningkatan itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan fiskal dimana defisit fiskal mencapai Rp313,4 triliun atau 2,4% dari Produk Domestik Bruto. Pemerintah memperkirakan potensi pajak dari program Tax Amnesty itu sebesar Rp165 triliun.
“Dari sisi fiskal akan positif. Kita akan punya dana yang cukup untuk pembangunan infrastruktur dari sisi anggaran negara. Konstruksi dan material akan diuntungkan,” ucap Andi.
(akr)
Lihat Juga :