Peran Bulog Penyangga dan Penstabil Harga Daging Tak Maksimal

Jum'at, 29 Juli 2016 - 18:31 WIB
Peran Bulog Penyangga...
Peran Bulog Penyangga dan Penstabil Harga Daging Tak Maksimal
A A A
JAKARTA - Pengamat Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Yeka Hendra Fatika mengatakan, sudah dua tahun terakhir ini pemerintah memberlakukan impor daging secondary cut hanya untuk BUMN yakni Bulog. Meski demikian, fungsi Bulog yang diamanahkan untuk penyangga dan penstabil harga tidak berjalan maksimal.

Selama ini, karena yang boleh impor hanya Bulog, sehingga importir umum pun hanya memperoleh izin manufacturing yang dagingnya hanya untuk keperluan industri.

"Ini fungsi Bulog sebagai penyangga dan penstabil harga, artinya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya walaupun sudah di berikan izin khusus," kata Yeka di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Data menyebutkan, dari Januari hingga Mei 2016, Bulog hanya mengimpor 5 kontainer secondary cut, padahal seharusnya bisa mengantisipasi dengan mengimpor secondary cut dengan jumlah lebih besar dalam rangka Ramadhan dan Idul Fitri.

Alhasil, jika sudah memasuki Ramadhan, Bulog baru mulai membeli barang, maka harga sudah terlanjur naik dari negara asalnya dan barang sudah terlanjur kosong di pasaran.

"Hal yang kemudian menjadi pertanyaan lagi adalah pembukaan sumber India sebagai sumber baru apakah sudah tepat? Apakah sudah ada jaminan kesehatan dan kehalalan? Jangan hanya karena ingin menekan harga lalu mengesampingkan faktor lain," kata dia.

Kemudian, jika daging India dibuka dan dijual dengn harga di bawah HPP sapi lokal hari ini, bagaimana soal kabar peternak lokal yang juga menggantungkan nasib dari ternaknya. Pemerintah harusnya bisa melihat ini.

"Anggaplah Bulog dapat mendistribusikan dengan baik daging India, lalu bagaimana dengan sapi lokal, apa mereka harus merugi dan kita akan dibuat ketergantungan dengan negara India?" tuturnya.

Seharusnya, harga HPP sapi lokal dalam negeri bisa setara dengan India. Karena, jika membuka keran impor secara besar besaran, tidak menjamin masalah selesai. "Bahkan, peternakan lokal yang tadinya mulai dilirik karena menghasilkan, akan kembali ditinggalkan dan swasembada daging akan semakin jauh," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kebijakan Pe­merintah...
Kebijakan Pe­merintah Soal Perberasan Harus Lindungi Petani
Perkuat Ketahanan Pangan...
Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Perum BULOG Siap Dukung Koperasi Merah Putih
Bulog Peduli Gizi Gelontorkan...
Bulog Peduli Gizi Gelontorkan Bantuan Beras Bervitamin kepada Dua Ribu Balita
Kinerja Gemilang BULOG...
Kinerja Gemilang BULOG Jatim: Lampaui Target dan Jadi Tulang Punggung Penyerapan Beras Nasional
Peringati Hari Gizi...
Peringati Hari Gizi Nasional, BULOG PEDULI Gelontorkan 6 Ton Beras Bervitamin
Beras Langka di Pasar...
Beras Langka di Pasar Ritel Modern, Bos Bulog Bilang Begini
Berita Terkini
10 Tahun Jadi Tempat...
10 Tahun Jadi Tempat Kerja Terbaik di Asia, BAT Indonesia Raih Platinum Harmonia
21 menit yang lalu
Traveloka Gelar Schooliday...
Traveloka Gelar Schooliday Sale, 46% Wisatawan RI Prioritaskan Biaya
22 menit yang lalu
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
38 menit yang lalu
Naik 2,07%, IHSG Balik...
Naik 2,07%, IHSG Balik Lagi ke Level 6.000-an
39 menit yang lalu
IFG Life Lindungi Lebih...
IFG Life Lindungi Lebih dari 20.000 Peserta BTN JAKIM 2026
59 menit yang lalu
DADA Buka Registrasi...
DADA Buka Registrasi RUPST 19 Juni, Siapkan Dividen Rp2 Miliar
1 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved