Rupiah Diramal Melemah
Senin, 01 Agustus 2016 - 08:37 WIB
Rupiah Diramal Melemah
A
A
A
JAKARTA - Meski masih diimbangi sentimen positif, melemahnya minyak dunia di area USD40/barrel membuat pergerakan rupiah terhadap USD sempat tertekan pada pekan lalu. Hal tersebut berpotensi pergerakan rupiah pada hari ini kembali melemah.
"Laju rupiah yang cenderung sideways, membuat rentan akan pelemahan jika sentimen yang ada kurang mendukung. Akan dirilisnya data inflasi Indonesia menjadi fokus para pelaku pasar dan diharapkan mampu menopang laju rupiah," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (1/8/2016).
Dia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.137/USD, serta resisten Rp13.090/USD.
Sementara, USD bergerak cenderung melemah terhadap mata uang mayoritas di dunia seperti EUR, GBP, AUD, serta NZD. Apalagi terhadap laju yen yang kembali mengalami penguatan setelah pelaku pasar sedikit kecewa akan program stimulus pertumbuhan ekonomi meski BoJ memutuskan untuk menambah stimulus.
"Pelemahan laju USD juga dipengaruhi respons pasar terhadap rilis pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung melambat pada kuartal II/2016. Melemahnya GDP Eropa di kuartal II/2016 menjadi 0,3% (vs 0,6%) membuat laju USD berpeluang menguat namun, dibatasi oleh kenaikan yen," pungkasnya.
"Laju rupiah yang cenderung sideways, membuat rentan akan pelemahan jika sentimen yang ada kurang mendukung. Akan dirilisnya data inflasi Indonesia menjadi fokus para pelaku pasar dan diharapkan mampu menopang laju rupiah," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (1/8/2016).
Dia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.137/USD, serta resisten Rp13.090/USD.
Sementara, USD bergerak cenderung melemah terhadap mata uang mayoritas di dunia seperti EUR, GBP, AUD, serta NZD. Apalagi terhadap laju yen yang kembali mengalami penguatan setelah pelaku pasar sedikit kecewa akan program stimulus pertumbuhan ekonomi meski BoJ memutuskan untuk menambah stimulus.
"Pelemahan laju USD juga dipengaruhi respons pasar terhadap rilis pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung melambat pada kuartal II/2016. Melemahnya GDP Eropa di kuartal II/2016 menjadi 0,3% (vs 0,6%) membuat laju USD berpeluang menguat namun, dibatasi oleh kenaikan yen," pungkasnya.
(dmd)