Penguatan Rupiah Diramal Terus Berlanjut
Jum'at, 12 Agustus 2016 - 08:22 WIB
Penguatan Rupiah Diramal Terus Berlanjut
A
A
A
JAKARTA - Rupiah pada pergerakan hari ini diramal kembali mencoba menguat dengan memanfaatkan sentimen yang ada. Di mana, laju dolar Amerika Serikat (USD) sedang melemah, sehingga potensi rupiah untuk penguatan lanjutan masih terbuka.
"Seiring belum adanya sinyal maupun sentimen akan pembalikan arah melemah," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (12/8/2016).
Dia memprediksi rupiah akan berada pada kisaran support Rp13.142/USD serta resisten Rp13.090/USD. Meski demikian, perlu untuk tetap mencermati sentimen yang ada.
Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, kemarin mampu berbalik menguat di kisaran Rp13.078-Rp13.102/USD dibanding sebelumnya di posisi Rp13.127/USD.
Penguatan rupiah ini ditopang oleh imbas laju USD yang bergerak melemah di kawasan Asia seiring rilis outlook ekonomi global yang masih kurang bagus dan ditambah melonjaknya kembali nilai yen.
Sentimen dari data produktivitas AS yang mengukur seberapa banyak barang dan jasa yang dihasilkan oleh pekerja yang diproyeksikan menurun menambah sentimen negatif bagi USD.
"Selain itu, progres atas program amnesti pajak masih menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk tetap berada di area positif," pungkasnya.
"Seiring belum adanya sinyal maupun sentimen akan pembalikan arah melemah," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (12/8/2016).
Dia memprediksi rupiah akan berada pada kisaran support Rp13.142/USD serta resisten Rp13.090/USD. Meski demikian, perlu untuk tetap mencermati sentimen yang ada.
Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, kemarin mampu berbalik menguat di kisaran Rp13.078-Rp13.102/USD dibanding sebelumnya di posisi Rp13.127/USD.
Penguatan rupiah ini ditopang oleh imbas laju USD yang bergerak melemah di kawasan Asia seiring rilis outlook ekonomi global yang masih kurang bagus dan ditambah melonjaknya kembali nilai yen.
Sentimen dari data produktivitas AS yang mengukur seberapa banyak barang dan jasa yang dihasilkan oleh pekerja yang diproyeksikan menurun menambah sentimen negatif bagi USD.
"Selain itu, progres atas program amnesti pajak masih menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk tetap berada di area positif," pungkasnya.
(izz)