Soal Rencana Holding Pertamina-PGN, Ini Respons Kalangan Analis
Sabtu, 13 Agustus 2016 - 22:42 WIB
Soal Rencana Holding Pertamina-PGN, Ini Respons Kalangan Analis
A
A
A
JAKARTA - Kalangan analis meminta rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadikan PT Pertamina (Persero) sebagai induk PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk harus dipertimbangkan dengan cermat. Jangan sampai ketidakjelasan rencana akuisisi menambah sentimen negatif terhadap bursa saham PGAS (kode saham PGN).
Meski PGN merupakan perusahaan pelat merah, namun, BUMN sektor gas tersebut telah mencatatkan saham di pasar modal dan kini sekitar 49% sahamnya dimiliki oleh publik.
"Market tidak ingin nanti setelah ada sentimen negatif di pasar modal, justru merembet ke sektor lain," kata analis saham dari Indosurya, William Surya Wijaya seperti dalam rilis yang diterima Sindonews di Jakarta, Sabtu (13/8/2016).
William menjelaskan, sentimen negatif dari pasar modal untuk pertama kalinya muncul sejak isu akuisisi diangkat Kementerian BUMN. Ia mengungkapkan saham PGAS anjlok dan kini market cenderung wait and see untuk mengetahui rumor akuisisi tersebut.
"Kami tentunya kan juga tidak mau ada sentimen susulan dan rembetan gejolak ke sektor lain apalagi ke ekonomi kita dengan adanya akuisisi ini," imbuh dia. (Baca: Rini Dapat Restu Jokowi Bentuk Enam Holding BUMN)
Lebih jauh dia meminta Kementerian BUMN untuk mengupas lebih dalam soal aspek positif dari rencana akuisisi tersebut. Hal ini dipandang perlu karena pasar pun akan mengerti apa maksud dan tujuan akuisisi tersebut.
Analis Woori Korindo Securities, Reza Priyambada pun menambahkan, niat Kementerian BUMN untuk mengakuisisi PGN seharusnya dipikirkan ulang. Pasalnya, dia menilai rencana ini akan membawa dampak yang buruk untuk PGN yang notabenenya adalah perusahaan yang telah melantai di bursa efek.
Menurutnya, di tengah perlambatan ekonomi yang seperti sekarang, seharusnya pemerintah tidak hanya memikirkan akuisisi atau holding untuk kepentingan Kementerian BUMN belaka, melainkan harus memikirkan kepentingan korporat yang akan diakuisisi tersebut.
"Karena Pertamina ini kan belum perusahaan terbuka ya, kemudian juga PGN sejauh ini sahamnya baik-baik saja. Kita khawatir, langkah akuisisi ini akan jadi bumerang di pasar modal, sentimen negatif dimana-dimana meskipun dari sektor rillnya mereka bilang ini menguntungkan," tuturnya.
Jika dilihat dari segi kinerja, PGN juga lebih fokus untuk mengelola gas dan tidak terkonsentrasi ke sektor bisnis lain. Berbeda dengan Pertamina yang juga mengelola bahan bakar minyak juga mengelola gas elpiji.
Reza berharap agar PGN fokus dengan apa yang sudah menjadi kewajibannya, toh sejauh ini dalam analisa pasar modal sahamnya stabil.
"Biarkan mereka (PGN) bertugas di jalurnya, karena mereka selama ini baik-baik saja, malah sudah perusahaan terbuka, tidak seperti Pertamina," tandasnya.
Meski PGN merupakan perusahaan pelat merah, namun, BUMN sektor gas tersebut telah mencatatkan saham di pasar modal dan kini sekitar 49% sahamnya dimiliki oleh publik.
"Market tidak ingin nanti setelah ada sentimen negatif di pasar modal, justru merembet ke sektor lain," kata analis saham dari Indosurya, William Surya Wijaya seperti dalam rilis yang diterima Sindonews di Jakarta, Sabtu (13/8/2016).
William menjelaskan, sentimen negatif dari pasar modal untuk pertama kalinya muncul sejak isu akuisisi diangkat Kementerian BUMN. Ia mengungkapkan saham PGAS anjlok dan kini market cenderung wait and see untuk mengetahui rumor akuisisi tersebut.
"Kami tentunya kan juga tidak mau ada sentimen susulan dan rembetan gejolak ke sektor lain apalagi ke ekonomi kita dengan adanya akuisisi ini," imbuh dia. (Baca: Rini Dapat Restu Jokowi Bentuk Enam Holding BUMN)
Lebih jauh dia meminta Kementerian BUMN untuk mengupas lebih dalam soal aspek positif dari rencana akuisisi tersebut. Hal ini dipandang perlu karena pasar pun akan mengerti apa maksud dan tujuan akuisisi tersebut.
Analis Woori Korindo Securities, Reza Priyambada pun menambahkan, niat Kementerian BUMN untuk mengakuisisi PGN seharusnya dipikirkan ulang. Pasalnya, dia menilai rencana ini akan membawa dampak yang buruk untuk PGN yang notabenenya adalah perusahaan yang telah melantai di bursa efek.
Menurutnya, di tengah perlambatan ekonomi yang seperti sekarang, seharusnya pemerintah tidak hanya memikirkan akuisisi atau holding untuk kepentingan Kementerian BUMN belaka, melainkan harus memikirkan kepentingan korporat yang akan diakuisisi tersebut.
"Karena Pertamina ini kan belum perusahaan terbuka ya, kemudian juga PGN sejauh ini sahamnya baik-baik saja. Kita khawatir, langkah akuisisi ini akan jadi bumerang di pasar modal, sentimen negatif dimana-dimana meskipun dari sektor rillnya mereka bilang ini menguntungkan," tuturnya.
Jika dilihat dari segi kinerja, PGN juga lebih fokus untuk mengelola gas dan tidak terkonsentrasi ke sektor bisnis lain. Berbeda dengan Pertamina yang juga mengelola bahan bakar minyak juga mengelola gas elpiji.
Reza berharap agar PGN fokus dengan apa yang sudah menjadi kewajibannya, toh sejauh ini dalam analisa pasar modal sahamnya stabil.
"Biarkan mereka (PGN) bertugas di jalurnya, karena mereka selama ini baik-baik saja, malah sudah perusahaan terbuka, tidak seperti Pertamina," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :