Pemerintah Akan Gunakan Skema Defisit untuk APBN 2017
Rabu, 17 Agustus 2016 - 13:11 WIB
Pemerintah Akan Gunakan Skema Defisit untuk APBN 2017
A
A
A
JAKARTA - Dalam penyusunan APBN 2017 yang berlaku tahun depan, pemerintah bakal melakukan penarikan utang dalam rangka menutup belanja negara yang lebih besar. Di mana, pemerintah akan menerapkan skema defisit.
(Baca: Ini 15 Kementerian dan Lembaga dengan Anggaran Terbesar 2017)
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menerangkan, skema defisit ini akan menggunakan surat berharga negara yang diterbitkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenke).
"Yang akan diterbitkan Rp389 triliun itu secara netto. Kita akan melakukan deficit financing antara global dan domestik. Tapi tentu saya tidak mereview secara strategis karena ini sangat dinamis. Semua tergantung situasi pasar," katanya di Jakarta, Selasa (16/8/2016) malam.
Untuk itu, pemerintah akan bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penerbitan utang. Sri Mulyani mengaku memiliki alasan tersendiri atas langkah tersebut.
"Dalam deficit financing dan gunakan instrumen utang kami bekerja sama dengan BI dan OJK untuk membuat kebijakan itu. Kondisi keuangan kita masih dangkal, jadi masih bisa menarik dari luar," ujarnya.
(Baca: Sri Mulyani Katakan RAPBN 2017 Tak Sehat, Ini Penjelasannya)
Dia juga mengatakan, akan tetap memantau kondisi global. Tentunya sejauh ini di negara-negara maju juga sudah banyak yang menerapkan suku bunga negatif.
"Kita lihat kondisi dalam negeri dulu. Tapi melihat kebijakan negara maju yang sangat lost tentu itu memberikan bunga menarik dan sangat kompetitif. Tentu saya akan cari pembiayaan yang sangat baik," pungkas Sri Mulyani.
(Baca: Ini 15 Kementerian dan Lembaga dengan Anggaran Terbesar 2017)
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menerangkan, skema defisit ini akan menggunakan surat berharga negara yang diterbitkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenke).
"Yang akan diterbitkan Rp389 triliun itu secara netto. Kita akan melakukan deficit financing antara global dan domestik. Tapi tentu saya tidak mereview secara strategis karena ini sangat dinamis. Semua tergantung situasi pasar," katanya di Jakarta, Selasa (16/8/2016) malam.
Untuk itu, pemerintah akan bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penerbitan utang. Sri Mulyani mengaku memiliki alasan tersendiri atas langkah tersebut.
"Dalam deficit financing dan gunakan instrumen utang kami bekerja sama dengan BI dan OJK untuk membuat kebijakan itu. Kondisi keuangan kita masih dangkal, jadi masih bisa menarik dari luar," ujarnya.
(Baca: Sri Mulyani Katakan RAPBN 2017 Tak Sehat, Ini Penjelasannya)
Dia juga mengatakan, akan tetap memantau kondisi global. Tentunya sejauh ini di negara-negara maju juga sudah banyak yang menerapkan suku bunga negatif.
"Kita lihat kondisi dalam negeri dulu. Tapi melihat kebijakan negara maju yang sangat lost tentu itu memberikan bunga menarik dan sangat kompetitif. Tentu saya akan cari pembiayaan yang sangat baik," pungkas Sri Mulyani.
(izz)
Lihat Juga :