Holding Panas Bumi Dinilai Hambat Investasi

Minggu, 21 Agustus 2016 - 17:24 WIB
Holding Panas Bumi Dinilai...
Holding Panas Bumi Dinilai Hambat Investasi
A A A
JAKARTA - Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) merasa khawatir terhadap rencana pembentukan perusahaan induk atau holding panas bumi dengan cara mengambil alih 50% saham PT Pertamina Geothermal Energy oleh PT PLN (Persero). Rencana tersebut dinilai tidak tepat karena akan menghambat investasi panas bumi di Indonesia.

"Aksi korporasi ini tidak tepat karena PLN sebagai off-taker sekaligus mempunyai pembangkit. Ini yang dikhawatirkan asosiasi karena akan menghambat keputusan investasi," ujar Ketua API Abadi Purnomo di Jakarta, Minggu (21/8/2016).

Menurut dia, sebaiknya PLN tetap berada dijalurnya yaitu membeli listrik dari pengembang agar tidak mengganggu investasi. Jika PLN bermain juga sebagai pengembang tentu investor akan berpikir ulang untuk berinvestasi di sektor panas bumi yang risiko pengembangannya seperti minyak dan gas bumi.

Setiap tahunnya investasi yang harus dikeluarkan pengembang sekitar USD5 juta per megawatt. "PLN sebaiknya membangun pembangkit karena yang diperlukan masyarakat saat ini listrik bukan akuisisi. Panas bumi adalah prioritas terakhir," jelasnya.

Dia mengatakan, akuisisi 50% saham PGE oleh PLN tidak menjamin pembelian listrik dari panas bumi oleh PLN akan lebih murah karena investasi panas bumi sudah sangat mahal. Apabila itu yang diinginkan pemerintah, langkah akusisi tersebut tidak tepat, sebaiknya pemerintah secara efektif menetapkan harga patokan pembelian tenaga listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi bukan membentuk holding panas bumi.

"Rencana akuisisi itu tidak akan mengubah harga lebih murah karena investasi panas bumi padat modal. Selain itu, negosiasi harga juga tidak jalan, padahal PLN satu-satunya pembeli," terang Abadi.

Senada, Direktur Eksekutif ReforMiners Institute Komaidi Notonegoro beranggapan bahwa sebaiknya PLN mengembangkan pembangkit listrik dan transmisi sesuai kompetensi PLN.

Menurut dia, PLN tidak mempunyai kapasitas mengerjakan di sektor hulu berbeda dengan PGE yang memang kapasitasnya melakukan eksplorasi dan eksploitasi di sektor hulu.

Komaidi mengingatkan, mengembangkan panas bumi butuh dana besar berbeda jauh dengan membangun pembangkit atau transmisi. Alangkah baiknya, kata Komaidi, PLN fokus meningkatkan rasio elektrifikasi daripada mengakuisisi PGE dengan mitigasi risiko bisnis berbeda.

"Masih banyak tugas yang harus dikerjakan PLN yaitu meningkatkan rasio elektrifikasi nasional," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengamat Nilai Kinerja...
Pengamat Nilai Kinerja PGEO 2025 Tegaskan Keuntungan Investasi Sektor Panas Bumi
Garap Harta Karun Energi...
Garap Harta Karun Energi di Jantung Indonesia, PGE Buka Peluang Kemitraan Strategis
Indonesia Berpotensi...
Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Industri Panas Bumi Skala Global
Berpengalaman Hampir...
Berpengalaman Hampir 50 Tahun, PGE Dapat Dukungan Jadi Induk BUMN Panas Bumi
Bisnis PGE Tetap Solid,...
Bisnis PGE Tetap Solid, Bukti Panas Bumi Punya Prospek Menjanjikan di Indonesia
PGE, PLN dan Geo Dipa...
PGE, PLN dan Geo Dipa Bakal Digabung, Ini Alasannya
Berita Terkini
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
1 jam yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
2 jam yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
2 jam yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
3 jam yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
3 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
3 jam yang lalu
Infografis
Terdeteksi, Fenomena...
Terdeteksi, Fenomena Alam Pemicu Ratusan Gempa Bumi per-Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved