Tak Transparan, Pajak Freeport Diusut Tim Investigasi

Rabu, 21 September 2016 - 17:54 WIB
Tak Transparan, Pajak...
Tak Transparan, Pajak Freeport Diusut Tim Investigasi
A A A
JAKARTA - Panitia Khusus (Pansus) Freeport DPR Papua (DPRP) menggelar pertemuan dengan PT Freeport Indonesia untuk membahas pembayaran pajak perusahaan raksasa tambang asal Amerika Serikat (AS) itu kepada pemerintah pusat. Dicurigai pihak Freeport tidak transparan mengenai pembayaran pajak, oleh karenanya kedua belah pihak sepakat membentuk tim kecil untuk melakukan investigasi.

Ketua Pansus Freeport DPRP Yan P Mandelas mengatakan, tim kecil yang sudah disepakati Pansus Freeprot DPR-P dengan pihak Freeport Indonesia bertugas mendalami data-data pajak dari pemerintah daerah, pemerintah pusat dan juga Freeport.

"Kami berharap Freeport membuka diri dan membuka ruang komunikasi secara aktif dengan Pemprov Papua agar hak dan kewajiban yang menjadi penerimaan daerah, baik itu bagi hasil maupun penerimaan pajak punya data akurat," katanya.

Dia menilai selama ini pembagian pendapatan yang diperoleh dari pajak penghasilan Freeport tidak transparan, karenanya perlu dilakukan pertemuan tripartit antara pemerintah pusat, Freeport Indonesia dan masyarakat Papua. "Usulan untuk membentuk tim kecil itu sangat baik. Tapi tentunya kami akan mengkoordinasikannya di DPR Papua terlebih dahulu," lanjut dia

Berdasarkan data dari Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Papua terlihat grafik pendapatan asli daerah (PAD) dari pajak Freeport sebesar tahun 2007 Rp4 miliar, 2008 kurang lebih Rp5 miliar, tahun 2009 R 6 miliar dan 2010 sekitar Rp7 miliar. Kemudian lanjutnya, naik hingga ke posisi tertinggi pada 2014 yakni Rp33 miliar dan di 2015 terjadi penurunan tajam senilai Rp15 miliar.

Menurut Yan P Mandelas seharusnya Freeport membayar pajak kurang lebih Rp2,7 triliun. "Apakah ini ada kesalahan dalam pengelolaan dan pembagian pajak PT FI?. Termasuk juga soal PPH Badan yang secara aturan Undang-undang (UU) selama ini, 35% disetor ke kas negara dan 10% dikembalikan ke daerah. Namun kenyataanya 10% tidak ada sehingga Pansus patut mempertanyakan hal tersebut," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
Berita Terkini
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
12 menit yang lalu
Penetapan Pemasok Batu...
Penetapan Pemasok Batu Bara PLTU Jadi Kewenangan Penuh Ditjen Minerba
38 menit yang lalu
APBN Semester I 2026...
APBN Semester I 2026 Defisit Rp196,5 Triliun, Purbaya: Kinerja Fiskal Tetap Kuat
50 menit yang lalu
Bahlil Siap Atur Mekanisme...
Bahlil Siap Atur Mekanisme Izin Tambang Ormas Agama Pascaputusan MK
2 jam yang lalu
RUU PFII Lompatan Strategis...
RUU PFII Lompatan Strategis Kejar Ekonomi RI 8%, Purbaya Ungkap 3 Pilar Penopangnya
3 jam yang lalu
Lionel Express Hadirkan...
Lionel Express Hadirkan Solusi Distribusi Barang B2B ke Seluruh Indonesia
3 jam yang lalu
Infografis
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved