Daya Tahan Rupiah di Tengah Gejolak Global

Minggu, 02 Oktober 2016 - 20:08 WIB
Daya Tahan Rupiah di...
Daya Tahan Rupiah di Tengah Gejolak Global
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali dalam tren pemulihan setelah sempat berada di titik terendah sejak krisis 1998 pada akhir September tahun lalu. Mata uang Garuda bahkan termasuk mata uang yang kinerjanya paling baik di Asia saat ini.

Kendati demikian, rupiah masih rentan terhadap risiko naiknya suku bunga Amerika Serikat (AS). Daya tahannya juga bergantung pada keberhasilan pemerintah menarik modal dari luar negeri. Membaiknya kinerja rupiah ini terutama didukung oleh sejumlah faktor fundamental domestik.

DBS Group Research mencatat, kepercayaan investor meningkat seiring perbaikan produk domestik bruto (PDB), yang telah kembali ke level 5% pada kuartal IV-2015. Tingkat inflasi yang turun ke 3-5% mulai November 2015 juga mendorong Bank Indonesia (BI) lima kali menurunkan suku bunga sepanjang 2016 ini.

"Investor asing pun telah meningkatkan kepemilikan obligasi negara menjadi 5,4% terhadap PDB pada semester I-2016, dari 4,8 persen pada akhir 2015," kata Ekonom senior DBS Group Research Philip Wee dalam riset di Jakarta, Minggu (2/10/2016).

Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan stabil di level 2,1% terhadap PDB pada kuartal IV-2015. Meski negatif, namun ada perbaikan neraca yang mengindikasikan tekanan terhadap ekspor sudah berkurang. "Faktor-faktor ini yang memberikan kontribusi pada ketahanan rupiah selama periode volatilitas global tahun ini," imbuh dia.

DBS Group Research menurunkan proyeksi rentang perdagangan rupiah terhadap dolar antara 5,5% hingga 6,1%. Dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan tidak akan mencapai lebih dari Rp14.000 untuk satu tahun ke depan.

Kendati demikian, rupiah tidak berarti kebal terhadap pergerakan mata uang global. Contohnya ketika China mendevaluasi mata uangnya pada Januari tahun ini, rupiah kembali terdepresiasi. Begitu pula ketika rakyat Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) pada Juni lalu.

DBS Group Research memandang kerentanan likuiditas Indonesia memang sudah berkurang dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, rencana kenaikan suku bunga AS (Fed rate) tetap bisa mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.

Faktor risikonya terutama berasal dari utang luar negeri yang terus meningkat serta cadangan devisa yang masih rendah. “Tekanan jual terhadap rupiah dapat balik lagi, jika utang luar negeri jangka pendek dan defisit transaksi berjalan memburuk lagi,” papar Wee.

Upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi kelihatannya masih mengahadapi tantangan karena terbatasnya ruang untuk menaikkan defisit anggaran. Meskipun sejak September tahun lalu sudah 13 paket kebijakan yang dikeluarkan. Salah satu andalan dalam jangka pendek adalah program amnesti pajak yang ditargetkan dapat menarik dana repatriasi hingga Rp 1.000 triliun atau sekitar USD 75 miliar.

Selain untuk meningkatkan penerimaan negara dan membiayai proyek infrastruktur, keberhasilan program amnesti pajak sekaligus akan memperbaiki kredibilitas fiskal pemerintah. Jika berhasil, Wee menilai peringkat utang Indonesia bisa naik ke level layak investasi, “investment grade” dari Standard & Poor’s. Hal itu juga dapat menjaga daya tahan rupiah terhadap terpaan volatilitas global dan kenaikan suku bunga AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
9 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
10 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
10 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
11 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
11 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
11 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved