RI Terlalu Asyik dengan Energi Fosil, RUU EBT Dipercepat

Senin, 30 Januari 2017 - 17:39 WIB
RI Terlalu Asyik dengan...
RI Terlalu Asyik dengan Energi Fosil, RUU EBT Dipercepat
A A A
JAKARTA - Ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dinilai bakal membahayakan ketahanan energi Indonesia di masa depan. Karena alasan tersebut Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mendorong percepatan penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Inisiatif tentang Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Melalui RUU yang juga masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2015-2019 tersebut, diharapkan memunculkan upaya terkait diversifikasi energi yang berupa sumber energi terbarukan dalam upaya mengamankan pasokan energi dalam negeri. Penyusunan RUU Pengembangan Energi Terbarukan bertujuan untuk membuat sebuah landasan regulasi dalam diversifikasi energi.

Sehingga kedepannya Indonesia menurut Ketua Tim kerja penyusunan RUU Pengembangan EBT Komite II DPD Wa Ode Hamsinah tidak hanya akan tergantung pada energi fosil dan justru beralih ke energi terbarukan. "Semangat DPD untuk mengangkat RUU terbarukan dalam produk legislasi ini agar kita punya landasan menginisiasi dan mengelola energi terbarukan," ucapnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komite II DPD, Jakarta, Senin (30/1/2017).

Lebih lanjut dia menerangkan pengelolaan serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia saat ini belum terlaksana sesuai rencana. Tambahnya pembangkit energi di berbagai tempat masih menggunakan bahan bakar fosil, padahal di Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi tinggi di bidang energi terbarukan, seperti panas bumi.

"Adanya pengembangan energi terbarukan dapat menjadi solusi atas ketergantungan terhadap energi fosil yang kian menipis," ungkap

Pembahasan RUU Energi Terbarukan ini oleh DPD mendapatkan sambutan baik dari Pakar Geothermal Yunus Daud., lantaran dinilai bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Menurut dia sudah saatnya Indonesia harus beralih dari sumber energi fosil ke sumber energi terbarukan.

“Menurut saya UU ini sangat mendesak. Bahkan pendapat saya ini sangat terlambat. Oleh karena itu saat ini, kita harus mulai. Kita terlalu asyik dengan energi fosil. Kalau tidak ada perencanaan (energi terbarukan), kita tidak akan mandiri,” terang Yunus.

Dia juga beranggapan bahwa inisasi pengembangan RUU sangat selaras dengan bagaimana Indonesia punya ketahanan atau sekuriti energi kedepan. Saat ini sumber energi terbarukan di Indonesia belum dikembangkan secara maksimal. Langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk mengembangkan sumber energi terbarukan belum terlihat jelas.

Saat ini Indonesia masih bergantung pada impor energi dari luar negeri. Mengacu pada PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target energi terbarukan pada bauran energi tahun 2025 hanya sebesar 23%. Angka tersebut masih menunjukkan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.

“Tapi saya tidak melihat 23%-nya, tapi melihat sisanya. Sisa 77% itu energi fosil. Jadi tahun 2025 kita tidak bisa lepas dari energi fosil, 77% itu angka yang besar. Mestinya renewable energi lebih besar lagi,” tegasnya.

Yunus juga berharap agar RUU tentang energi terbarukan ini dapat membuka mata masyarakat bahwa jika Indonesia selalu menggantungkan pada energi fosil maka kedepannya Indonesia akan mengalami krisis energi. Keberadaan RUU ini akan menjadi landasan kuat dalam pengembangan energi terbarukan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dirjen EBTKE: Transisi...
Dirjen EBTKE: Transisi Energi Pilihan Mutlak
Insentif untuk Pelaku...
Insentif untuk Pelaku Usaha EBTKE Sedang Disiapkan Pemerintah
Realisasi Investasi...
Realisasi Investasi EBTKE Masih Jauh dari Target
Dirjen EBTKE Tinjau...
Dirjen EBTKE Tinjau Proyek Pengolahan Sampah dan Gulma di Saguling
Dirjen EBTKE Paparkan...
Dirjen EBTKE Paparkan Potensi PLTS Terapung di Jawa
PLN IP Raih 4 Penghargaan...
PLN IP Raih 4 Penghargaan Subroto EBTKE 2023
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
57 menit yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
59 menit yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
1 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
2 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
2 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
3 jam yang lalu
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved