Sri Mulyani Waspadai Lompatan Inflasi Beberapa Bulan Mendatang
Rabu, 01 Februari 2017 - 18:38 WIB
Sri Mulyani Waspadai Lompatan Inflasi Beberapa Bulan Mendatang
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengemukakan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan melakukan sejumlah cara untuk mengantisipasi inflasi kembali terkerek pada periode yang akan datang. Mengingat, beberapa bulan mendatang diperkirakan masih ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi.
(Baca Juga: Inflasi Januari 2017 Capai 0,97%, Tertinggi sejak 2015)
Kenaikan harga minyak dunia diprediksi akan terus terjadi beberapa waktu mendatang, hal ini tentu berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik. Selain itu, penyesuaian tarif dasar listrik (TDL) pelanggan 900 volt ampere (VA) secara bertahap pun masih akan terjadi beberapa bulan mendatang. Hal ini tentu berpotensi membuat inflasi nasional terus terkerek.
"Kita untuk 2017 akan terus diperhatikan bagaimana mengendalikan secara efektif. Jadi untuk 2017 bersama BI dan Menko Perekonomian kita terus berkoordinasi agar inflasi yang berasal dari administred price, barang yang diatur oleh pemerintah itu bisa terus terjaga meskipun ada komitmen di APBN," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/2/2017).
Selain itu, sambung mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan BI untuk menjaga agar harga pangan tetap terjaga. Sejauh ini, komponen harga bergejolak (volatile food) dan inflasi inti masih tetap terjaga. Dia berharap, dua faktor tersebut akan tetap terjaga kedepan.
"Ini kita bersama BI dan Menko Perkeonomiuan akan mencoba mengkoordinasikan dengan para menteri lain yang berhubungan dengan masalah pangan, maupun dari sisi core inflation," imbuh dia.
Mantan Menko bidang Perekonomian ini menambahkan, pihaknya juga akan memantau potensi kenaikan inflasi dari sisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Apalagi, kebijakan-kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump memiliki potensi untuk menguatkan USD dan melemahkan mata uang Garuda.
"Faktor yang muncul apa dari sisi supply (pasokan) atau dari permintaan, atau dari sisi nilai tukar kalau dia barang impor. Karena ada pergerakan juga nilai tukar. Walaupun kita secara satu tahun ini, tahun 2016 kemarin nilai tukar kita hampir sama dengan asumsi," paparnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan bahwa, kenaikan biaya urus Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) menjadi salah satu penyebab inflasi periode Januari 2017. Angka inflasi pada awal 2017 di level 0,97% lebih tinggi dibanding Januari 2015 dan Januari 2016 yang masing-masing deflasi 0,24% dan inflasi 0,51%.
(Baca Juga: Inflasi Januari 2017 Capai 0,97%, Tertinggi sejak 2015)
Kenaikan harga minyak dunia diprediksi akan terus terjadi beberapa waktu mendatang, hal ini tentu berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik. Selain itu, penyesuaian tarif dasar listrik (TDL) pelanggan 900 volt ampere (VA) secara bertahap pun masih akan terjadi beberapa bulan mendatang. Hal ini tentu berpotensi membuat inflasi nasional terus terkerek.
"Kita untuk 2017 akan terus diperhatikan bagaimana mengendalikan secara efektif. Jadi untuk 2017 bersama BI dan Menko Perekonomian kita terus berkoordinasi agar inflasi yang berasal dari administred price, barang yang diatur oleh pemerintah itu bisa terus terjaga meskipun ada komitmen di APBN," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/2/2017).
Selain itu, sambung mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan BI untuk menjaga agar harga pangan tetap terjaga. Sejauh ini, komponen harga bergejolak (volatile food) dan inflasi inti masih tetap terjaga. Dia berharap, dua faktor tersebut akan tetap terjaga kedepan.
"Ini kita bersama BI dan Menko Perkeonomiuan akan mencoba mengkoordinasikan dengan para menteri lain yang berhubungan dengan masalah pangan, maupun dari sisi core inflation," imbuh dia.
Mantan Menko bidang Perekonomian ini menambahkan, pihaknya juga akan memantau potensi kenaikan inflasi dari sisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Apalagi, kebijakan-kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump memiliki potensi untuk menguatkan USD dan melemahkan mata uang Garuda.
"Faktor yang muncul apa dari sisi supply (pasokan) atau dari permintaan, atau dari sisi nilai tukar kalau dia barang impor. Karena ada pergerakan juga nilai tukar. Walaupun kita secara satu tahun ini, tahun 2016 kemarin nilai tukar kita hampir sama dengan asumsi," paparnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan bahwa, kenaikan biaya urus Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) menjadi salah satu penyebab inflasi periode Januari 2017. Angka inflasi pada awal 2017 di level 0,97% lebih tinggi dibanding Januari 2015 dan Januari 2016 yang masing-masing deflasi 0,24% dan inflasi 0,51%.
(akr)
Lihat Juga :