4.000 Pekerja Lokal di Freeport Hanya Digaji UMR

Senin, 27 Februari 2017 - 13:39 WIB
4.000 Pekerja Lokal...
4.000 Pekerja Lokal di Freeport Hanya Digaji UMR
A A A
JAKARTA - Ketua Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN) Peradi Otto Hasibuan mengaku kaget dengan informasi yang didapatnya dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, mengenai penghasilan para pekerja PT Freeport Indonesia yang ada di Papua. Sebab, orang Indonesia yang bekerja di raksasa tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut hanya digaji sebatas upah minimum rata-rata (UMR) yang ada di Indonesia.

(Baca Juga: Lawan Freeport, Jonan Tancap Gas Kumpulkan Para Advokat )

Sebagai perusahaan tambang kelas kakap, Otto berekspektasi bahwa karyawan-karyawan Freeport akan mendapat penghasilan istimewa dengan gaji di atas rata-rata. Apalagi, medan tempat mereka bekerja cukup sulit dan dengan pekerjaan berat.

"Ternyata kalau kita lihat pegawainya itu hanya mendapat UMR. Sama dengan kita ini, enggak ada istimewanya. Bagaimana di Jakarta, disana juga lebih kurang Rp3,3 juta juga gajinya. Padahal kerjanya luar biasa. Memang itu tidak melanggar hukum, tapi tidak mendapat keistimewaan rupanya. Kita pikir orang bekerja disana itu mewah," katanya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (27/2/2017).

(Baca Juga: Skenario Pemerintah Kuasai Saham Freeport Diyakini Tak Berjalan Mulus )

Tak hanya itu, sambung Kuasa Hukum Jessica Kumala Wongso ini, dari 12.000 jumlah pegawai Freeport ternyata hanya 4.000 pekerja dari lokal. Sementara sisanya adalah ekspatriat dengan upah dolar Amerika Serikat (USD). Pegawai Freeport yang berasal dari Indonesia pun paling banyak bekerja di level paling bawah.

Dengan kenyataan tersebut, Otto berpendapat bahwa sebesar apapun keuntungan yang dihasilkan Freeport dari upayanya mengeruk tambang di Bumi Cendrawasih, maka hal tersebut tidak akan terlalu berdampak banyak terhadap ekonomi di Papua. Sebab, para ekspatriat tersebut tentu akan membawa penghasilannya ke asal mereka.

"Jadi kalau ada uang masuk pada mereka, berarti yang 8.000 orang juga akan membawa keluar dong uangnya ini. Tidak akan mendapatkan kemakmuran juga bagi rakyat Papua. Karena tertinggal uang itu hanya di tangan 4.000 orang, dan itu low class sekali," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved